
Manusia memiliki kecenderungan rindu untuk kembali, entah untuk kembali pulang, balik ke kampung halaman, dan lain sebagainya. Namun, semoga memilih kembali untuk yang lebih baik, bukannya yang negatif ataupun masa lalu yang buruk.
Zaman dulu, pada masa era peternakan dengan kawasan yang luas di wilayah Amerika, ada sebuah trik yang dilakukan oleh pemilik peternakan, yaitu mengikatkan seekor keledai kepada seekor kuda liar, lalu keduanya dilepaskan ke hamparan padang rumput.
Lantas, kuda liar itu akan menggeret si keledai berkilometer-kilometer jauhnya, seolah mengempaskan ke sana kemari, seakan-akan keledai lemah itu menjadi sekarung pakan ternak.
Namun, dalam beberapa hari, kuda liar dan keledai itu akan kembali berdua. Keledai, hewan yang lebih kecil itu akan tampak lebih dulu, memimpin di depan, berjalan tegap kembali menuju peternakan, sambil menuntun kuda liar yang kini telah tunduk di belakangnya dan siap menjadi seekor kuda tunggangan yang tenang.
Sebelumnya, di alam liar, kuda tersebut akan merasa kelelahan dan mencoba melepaskan diri dari si keledai. Pada momen itulah, keledai malah dapat menjadi tuan atas kedua-duanya. Hewan yang lambat, sabar, dan tidak dianggap penting itu berubah menjadi pemimpin bagi hewan yang lebih cepat, lebih meledak-ledak, dan lebih berharga mahal.
Tak peduli seberapa sering berkelahi, menarik-narik tali, dan menendang-nendang serta mengamuk, setiap kali juga keledai itu bangkit, berdiri, melangkah beberapa langkah lagi, mengarah kembali pulang ke peternakan. Hanya masalah waktu saja sampai kuda yang letih dan kehabisan tenaga itu memilih untuk mulai mengikutinya.
Saya membayangkan, mungkin sebagian besar kita seperti itu. Bertahun-tahun kita memilih jalan yang salah, mencoba menghindari, menolak, maupun menjauh sejauh-jauhnya dari kehendak serta panggilan Allah atas hidup kita.
Sampai akhirnya, kita kelelahan sendiri. Namun, apakah perlu sampai mengalami seperti itu terlebih dulu? Lebih cepat kita taat, lebih tidak perlu kita membuang-buang waktu maupun melenceng terlalu jauh dari apa yang seharusnya kita lakukan.
Kisah Para Rasul 26:14 (BSD), "Kami semua jatuh ke tanah. Saya mendengar suatu suara berkata kepada saya, 'Saulus, Saulus! Mengapa engkau terus saja melakukan hal-hal yang tidak baik terhadap Aku? Kau akan merasa sakit sendiri kalau terus saja melawan Aku, pemimpinmu. Engkau akan seperti sapi yang terus saja menendang tongkat tuannya.'"
Kami semua terjatuh, dan hamba mendengar suatu suara berbicara kepada hamba dalam bahasa Ibrani, 'Saulus, Saulus, apa sebabnya engkau menganiaya Aku? Engkau hanya menyakiti diri sendiri.' (FAYH)
We all fell to the ground and I heard a voice saying to me in Hebrew, 'Saul, Saul, why are you persecuting me? It is hard for you to kick against your own conscience.' (Phillips NT)
We all fell to the ground. Then I heard the voice of someone speaking to me in my own Hebrew language. He said 'Saul, Saul, …stop causing me to suffer!/why are you causing me to suffer?" You are hurting yourself by trying to hurt me, like an ox kicking against its owner's goad.' (DEIBLER)
~ FG