
Artemis 2—sebuah misi kembalinya manusia ke orbit bulan setelah lebih dari 53 tahun jeda. Bukan sekadar perjalanan luar angkasa, misi ini adalah simbol keberanian, ketekunan ilmu pengetahuan, dan kerja sama besar-besaran lintas disiplin.
Tidak ada satu astronot pun yang berangkat sendirian. Ada pengetahuan yang panjang, latihan bertahun-tahun, teknologi yang rumit, dan dukungan lebih dari ratusan orang di balik layar agar satu misi bisa berjalan dan mencapai tujuan.
Ketika membaca berita ini, sulit untuk tidak mengingat Amanat Agung. Yesus berkata, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu" (Matius 28:19–20, TB2).
Amanat ini juga sebuah misi besar. Bukan misi satu orang, bukan tugas satu generasi, dan jelas bukan pekerjaan yang bisa dilakukan hanya dengan semangat sesaat. Seperti halnya bahkan mungkin lebih daripada Artemis 2, misi Kerajaan Allah menuntut keberanian, pengetahuan, dan dukungan—semuanya bekerja bersama. Keberanian datang dari Roh Kudus. Tanpa-Nya, kita mudah mundur. Alkitab berkata, "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban" (2 Timotius 1:7, TB2).
Keberanian rohani bukan soal sekadar nekat, tetapi keberanian yang lahir dari keyakinan bahwa Allah menyertai dan memimpin.
Namun keberanian saja tidak cukup. Seperti halnya para astronot yang tidak hanya berani; mereka berpengetahuan dan terlatih, pun demikian dalam konteks iman, hikmat dan pengertian sangat penting agar misi dijalankan dengan bijaksana. Firman Tuhan menegaskan, "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian" (Amsal 9:10, TB2).
Hikmat pun akan menolong kita membaca konteks, peka terhadap peluang, dan tahu kapan melangkah, kapan menunggu, dan bagaimana berbicara dengan kasih.
Selain itu, tidak ada misi besar tanpa dukungan. Artemis 2 berdiri di atas kerja tim. Demikian pula Amanat Agung. Dukungan itu datang dari keluarga, gereja, dan komunitas iman. Alkitab berkata, "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus" (Galatia 6:2, TB2).
Sebuah misi akan menjadi berat ketika kita memikulnya sendirian, tetapi menjadi mungkin apabila dijalani bersama-sama.
Lalu, bagaimana dengan suara di kepala kita yang berkata, "Kamu tidak bisa"? Di sinilah motivasi sejati misi Kristen dinyatakan. Bukan kemampuan kita yang menjadi penggerak utama, tetapi kasih Kristus yang menguasai. Kasih itu mendorong kita melampaui rasa tidak mampu, rasa tidak layak, dan rasa takut gagal.
"Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang telah mati untuk semua orang, maka mereka semua telah mati" (2 Korintus 5:14, TB2).
Apakah pikiran kami tidak waras (karena mengatakan hal-hal seperti itu mengenai diri kami)? Kalau demikian halnya, kami melakukannya untuk membawa kemuliaan bagi Allah. Dan kalau pikiran kami waras, itu adalah untuk kebaikan Saudara. Apa pun yang kami lakukan, jelas bukan untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri, melainkan karena kasih Kristus sekarang menguasai kami. Karena kita percaya bahwa Kristus mati bagi kita sekalian, hendaknya kita juga percaya bahwa kita telah mati terhadap hidup lama yang dahulu kita jalani. (FAYH)
Christ's love has moved me to such extremes. His love has the first and last word in everything we do. Our firm decision is to work from this focused center: One man died for everyone. That puts everyone in the same boat. (MSG)
Misi Artemis 2 oleh NASA mengingatkan kita, bahwa tujuan besar selalu dicapai oleh orang-orang yang mau diperlengkapi, mau didukung, dan mau taat pada arahan pusat kendali. Dalam Amanat Agung Tuhan Yesus, pusat kendali itu adalah kerajaan Allah sendiri. Kita dipanggil bukan untuk merasa sanggup, tetapi untuk bersedia, lalu berjalan bersama Roh Kudus, hikmat Tuhan, dan komunitas yang menopang.
Sudahkah Saudara dan saya melakukan Amanat Agung, dan tetap setia menjalankannya?
~ JP