
Lukas 15:20 (TB2), "Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayah itu berlari mendapatkan dia..."
Saya membaca kisah itu karena penasaran dengan seorang preman zaman tahun '70-an, bernama Pribadi, yang muncul dalam tulisan paman saya. Tetapi setelah itu, justru saya tidak bisa berhenti memikirkan seorang ayah.
Namanya Pak Santo. Dia mengangkat Pribadi menjadi anaknya, setelah ayah Pribadi hilang dalam peristiwa G30S.
Orang-orang mengingat Prihadi sebagai preman yang disegani. Tubuhnya kuat, emosinya meledak-ledak, dan hidupnya penuh luka. Ia pernah bermimpi menjadi taruna Akabri, tetapi mimpinya runtuh ketika masa lalu ayah kandungnya menjadi penghalang. Sejak itu, hidupnya berbelok. Kemarahannya pada ketidakadilan perlahan berubah menjadi jalan hidup yang menghancurkan dirinya sendiri.
Namun bukan bagian itu yang terus tinggal di kepala saya. Yang terus terngiang di pikiran saya justru satu pertanyaan sederhana. Mengapa Pak Santo tidak pernah berhenti menjadi ayahnya? Ia tahu anak angkatnya menjadi preman. Ia tahu uang yang diberikannya sering dipakai dengan cara yang tidak ia harapkan. Mungkin berkali-kali ia kecewa. Namun, ia tidak pernah menutup pintu rumahnya. Seperti halnya pula Billy dan Ruth Graham terhadap putra mereka Franklin Graham yang sempat memberontak.
Semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa sedang melihat bayangan kasih Allah Bapa yang di surga.
Bukankah kita pun sering datang kepada Tuhan membawa hidup yang berantakan? Kita membuat keputusan yang keliru, menyalahkan keadaan, bahkan kadang menjauh dari-Nya. Namun setiap kali kita kembali, Tuhan tidak berkata, "Aku sudah capek mengurusmu."
Sebaliknya, Yesus menceritakan tentang seorang ayah yang berlari menyambut anaknya sebelum anak itu sempat menjelaskan apa pun.
Saya tidak tahu apakah hidup Prihadi akan berbeda jika ia diterima menjadi taruna. Saya juga tidak tahu mengapa Tuhan mengizinkan luka sebesar itu singgah dalam hidupnya. Tetapi, saya tahu satu hal, bahwa luka menjelaskan mengapa seseorang mungkin menjadi ataupun bertindak seperti sekarang ini, tetapi luka tidak harus menentukan seperti apa akhir hidup seseorang.
Itulah sebabnya Injil selalu memberi harapan. Masa lalu kita mungkin tidak dapat diubah. Tetapi kasih Kristus sanggup mengubah arah perjalanan kita. Mulai hari ini.
Mungkin ada hari ini dari antara kita yang merasa sudah terlalu jauh dari Tuhan. Terlalu banyak kegagalan. Terlalu banyak kemarahan. Terlalu banyak penyesalan. Kalau begitu, ingatlah Pak Santo. Lalu, ingatlah Allah Bapa yang jauh lebih setia daripada Pak Santo, ataupun Billy Graham.
Pintu hati-Nya masih terbuka. Dan Ia masih menunggu anak-anak-Nya pulang. Kasih-Nya tidak bergantung sekadar pada keberhasilan kita. Meski ketika kita jatuh, Dia tetap memanggil kita kembali pada-Nya. Jadi, jangan biarkan hidup kita ditentukan oleh masa lalu ataupun luka, melainkan oleh kasih-Nya yang memulihkan serta memeluk kita.
~ JP