
Pasti kita pernah melihat seseorang yang hampir tidak pernah berbicara dalam sebuah kelompok. Ide-idenya tidak terdengar. Potensinya tidak terlihat. Ia tampak biasa saja. Namun ketika berada di lingkungan yang berbeda, orang yang sama tiba-tiba menjadi kreatif, berani, bahkan memimpin.
Apa yang berubah?
Bukan talentanya. Bukan kecerdasannya. Bukan karakternya. Sering kali yang berubah hanyalah satu hal, yaitu ia merasa aman. Aman untuk berbicara. Aman untuk bertanya. Aman untuk salah. Aman untuk belajar. Aman untuk menjadi dirinya sendiri.
Sebaliknya, dalam lingkungan yang mungkin penuh ejekan, intimidasi, atau kritik yang merendahkan, banyak orang memilih diam. Bukan karena mereka tidak memiliki ide, tetapi karena mereka takut. Takut ditertawakan. Takut dianggap bodoh. Takut ditolak.
Semoga kita berada di lingkungan yang tepat, dan apabila sekiranya Tuhan masih mengizinkan kita ada di tempat yang belum tepat bagi kita, percayalah bahwa mungkin Ia sedang memproses serta mempersiapkan kita.
Dan jika kita telah mengalami kasih serta penerimaan Tuhan akan kita, tidak perlu lagi kita hidup untuk membuktikan diri, oleh sebab kita tahu Siapa yang memiliki kita.
1 Yohanes 4:18 (FAYH), "Kita tidak usah takut terhadap Dia yang mengasihi kita dengan sempurna, karena kasih yang sempurna itu meniadakan segala ketakutan akan apa yang mungkin dilakukan-Nya terhadap kita. Jikalau kita merasa takut, itu menunjukkan bahwa kita tidak yakin benar bahwa Ia sungguh-sungguh mengasihi kita."
There is no room in love for fear. Well-formed love banishes fear. Since fear is crippling, a fearful life--fear of death, fear of judgment--is one not yet fully formed in love. (MSG)
Love contains no fear. Indeed fully developed love expels every particle of fear, for fear always contains some of the torture of feeling guilty. The man who lives in fear has not yet had his love perfected. (Phillips NT)
Inilah yang dilakukan Yesus bagi orang-orang di sekitar-Nya. Ia menerima kita apa adanya. Para murid yang sering gagal tetap diterima. Petrus yang menyangkal-Nya tiga kali, dipulihkan-Nya tiga kali. Tomas yang ragu, tidak ditolak. Bahkan setelah kebangkitan-Nya, Yesus tidak mempermalukan murid-murid-Nya. Ia memulihkan mereka.
Kasih menciptakan ruang yang aman untuk bertumbuh. Dan bukankah itu yang seharusnya terjadi di rumah, di sekolah, di tempat kerja, bahkan di gereja? Kadang kita berpikir tugas kita adalah mengoreksi setiap kesalahan. Padahal sering kali yang lebih dibutuhkan seseorang adalah tempat yang aman untuk bertumbuh melewati kesalahannya.
Tentu kasih bukan berarti mengabaikan kebenaran. Yesus tetap menegur, tetapi Ia tidak pernah mempermalukan. Ia mengoreksi, tetapi tidak menghancurkan.
Saya bertanya-tanya, jika orang-orang di sekitar kita menjadi versi terbaik dari dirinya, apakah mereka akan berkata bahwa kita yang membantu menciptakan rasa aman itu? Atau justru sebaliknya?
Karena pada akhirnya, banyak talenta tidak pernah berkembang bukan karena tidak ada kemampuan. Tetapi karena tidak ada tempat yang cukup aman untuk mengekspresikannya.
Mungkin hari ini, Tuhan mengajak kita menjadi pribadi-pribadi yang berbeda. Menjadi orang yang memberi keberanian, bukan ketakutan. Menjadi orang yang membangun, bukan meruntuhkan. Menjadi orang yang membuat orang lain berani bertumbuh. Sebab, orang berkembang paling cepat bukan ketika mereka merasa sekadar diawasi, tetapi ketika mereka merasa sungguh-sungguh dikasihi.
Dan menjadi pribadi yang menghadirkan kasih-Nya kepada orang lain, menyediakan ruang yang aman untuk belajar, bertumbuh, dan menemukan potensi yang Tuhan tanamkan dalam hidup mereka.
Sudahkah Saudara dan saya melakukannya?
~ JP