
Lukas 22:61-62, "Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus akan firman Tuhan yang disampaikan kepada-Nya: 'Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku.' Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya."
Matius 27:3-5, "Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua, dan berkata: 'Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.' Tetapi jawab mereka: 'Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!" Maka iapun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri."
Apa beda antara Yudas (Iskariot) dengan (Simon) Petrus?
Keduanya sih sama-sama pernah mengkhianati Tuhan Yesus.
Yudas, yang dikendalikan keserakahan ataupun keinginan yang salah, "menjual" Guru-Nya demi beberapa keping uang.
Yudas menyesal dalam keputusasaan, hanya melihat kegagalannya, bukan kepada Juruselamat. Yudas juga menganggap Yesus hanyalah seorang Rabi (Matius 26:25), kagum pada ajaran-Nya, tetapi tidak pernah percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Tuhan dan Juruselamat. Ketika ia gagal, ia hanya punya dirinya sendiri untuk diandalkan.
Sebaliknya, Petrus yang "dilumpuhkan" ketakutan, menyangkal mengenal Tuhan Yesus di hadapan orang lain, Petrus menuju pada pertobatan. Petrus mengaku Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup (Matius 16:16), imannya berakar pada pribadi Kristus, ketika ia jatuh, ia masih memiliki sebuah "jangkar" untuk berpaut—yaitu kasih karunia Tuhannya.
Sebagai orang percaya, kita juga semua pernah gagal, dan mengkhianati Dia dalam bentuk apa pun. Pertanyaannya, bagaimana respons kita setelah kegagalan itu? Apakah kita hanya menyesal dan tenggelam dalam keputusasaan seperti Yudas? Ataukah mau bertobat seperti Petrus, dan berlari kepada Yesus?
Kita mungkin masih saja bisa jatuh dalam dosa, tetapi tidak akan sudi untuk hidup di dalam dosa. Apa bedanya antara jatuh dalam dosa, dan hidup dalam dosa?
Jatuh dalam dosa:
- Sikap hati: Menyesal, bangkit, dan tidak mengulangi
- Frekuensi: Insidental atau tiba-tiba dan mungkin tidak secara sengaja
- Respons: Mengaku dosa serta mau bertobat
- Hasil: Proses pendewasaan rohani
Hidup dalam dosa:
- Sikap hati: Menikmati, mencari alasan untuk pembenaran diri
- Frekuensi: Berulang secara konsisten dan menjadi gaya hidup
- Respons: Mengacuhkan dan mengabaikan teguran hati nurani
- Hasil: Terhilang dan terpisah dari kasih
Bagaimana dengan kita hari-hari ini, adakah intimidasi untuk terus-menerus tenggelam dalam keputusasan dan keterpurukan akan dosa maupun keadaan-keadaan tertentu? Ataukah, kita mau bersujud, berlutut, dan berdoa memohon belas kasih, kasih karunia-Nya?
Sukacitaku penuh
ku bermazmur bagi-Mu
Karna kutahu ku t'lah ditebus
Oleh curahan darah-Mu
Ku menari bagi-Mu
ku memuji nama-Mu
Karna kutahu ku berkemenangan
Oleh curahan darah-Mu
Darah-Mu Yesus, sucikan daku
Darah-Mu Yesus, bebaskanku
Darah-Mu Yesus, sembuhkan daku
Ku dijadikan baru
(Sanip Yesaya)
~ FG