
Lukas 23:34, "Yesus berkata: 'Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.' Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya."
Jesus said, "My Father, forgive them, because they do not realize whom they are doing this to." Then the soldiers divided his clothing by gambling with something like dice, to decide which piece of clothing each one would get. (DEIBLER)
Ada perkataan luar biasa sangat menyentuh hati yang terdalam di kitab Lukas, yang mungkin tidak kita dapat kita temukan dalam dua kitab yang sebelumnya, yakni Matius dan Markus. Yaitu, Tuhan Yesus yang memohonkan ampun kepada Bapa: "Ya Bapa, ampunilah mereka." Ketika Dia sedang tersalib.
Sebuah referensi menyatakan, orang-orang waktu itu bisa saja mengira Ia seharusnya mengharap Allah Bapa menghukum mereka, "Bapa, hukumlah mereka!", seperti yang mungkin akan kita lakukan, melakukan dan menginginkan pembalasan alih-alih pengampunan, terhadap orang-orang yang bersalah terhadap kita.
Apa yang mereka lakukan mungkin memang sudah seharusnya layak untuk dihukum, tidak berhak menerima pengampunan, dan tidak pantas memperoleh belas kasihan. Namun, nyatanya Tuhan Yesus justru mendoakan secara khusus terhadap mereka. Bahkan, lebih jauh, bagi kita semua, orang yang juga berdosa ini, dan sering kali tidak tahu apa yang kita perbuat. Sebab, Ia mati untuk menebus kita dari dosa.
Bagaimana dengan kita juga saat-saat ini? Maukah kita mengampuni, memaafkan, bahkan mendoakan orang lain yang mungkin melakukan kesalahan? Sebagaimana kita dapat berdoa memohon ampun kepada Allah untuk atas dosa yang kita lakukan, kita pun dapat mendoakan pengampunan bagi orang lain, sebab tidak ada dari kita yang benar-benar luput dari kesalahan.
Hari ini kita diingatkan, jika Tuhan Yesus saja masih rela mengampuni dan mendoakan, sekalipun ketika Ia disalibkan; jika Stefanus bersedia mengampuni dan mendoakan, meskipun ia dilempari batu sampai mati, masakah kita enggan mengampuni serta mendoakan orang lain, sementara kita masih dapat menjalani hari dengan bebas serta bernapas dengan lega?
Pengikut Kristus yang sejati pasti mau mengampuni, dan mendoakan.
Kisah Para Rasul 7:60 (BSD), "Kemudian ia berlutut dan berdoa dengan nyaring, 'Tuhan, ampunilah mereka. Janganlah Tuhan mengingat dosa mereka ini!' Sesudah berdoa demikian, ia meninggal."
Then he knelt down, praying loud enough for everyone to hear, "Master, don't blame them for this sin"--his last words. Then he died. Saul was right there, congratulating the killers. (MSG)
~ FG