
2 Petrus 2:7, "Tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja."
Perhatikan bahwa Allah menyelamatkan Lot karena Lot itu orang yang benar. Setiap hari dia tertekan melihat dan mendengar tentang perbuatan hawa nafsu bejat yang dilakukan oleh penduduk kedua kota itu. Selama orang benar itu hidup di antara mereka, hatinya hancur karena perbuatan mereka yang begitu jahat. (TSI)
But that good man Lot, driven nearly out of his mind by the sexual filth and perversity, was rescued. (MSG)
Apakah kita juga merasa tersiksa melihat amoralitas yang terjadi di sekitar kita, atau malah justru terlibat di dalamnya?
2 Petrus 2:8, "Sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa."
Surrounded by moral rot day after day after day, that righteous man was in constant torment. (MSG)
Hal yang "menarik", tidak disebut istri Lot juga ikut merasa tersiksa melihat perbuatan-perbuatan yang jahat di sana. Hatinya mungkin terikat serta terbelenggu oleh dunia.
Kisah Lot adalah salah satu kisah yang paling kompleks dalam Alkitab. Kita mengenalnya dari kitab Kejadian sebagai keponakan Abraham yang memilih tanah yang subur, yaitu daerah lembah Yordan yang menuju ke Sodom, dan akhirnya tinggal di kota yang jahat itu.
Lot pada ayat firman Tuhan hari ini disebut sebagai orang yang benar. Demikianlah dia dalam kecenderungan hatinya secara umum, dan sepanjang tindak-tanduknya. Allah tidak menilai orang benar atau tidak benar dari satu perbuatan, melainkan dari jalannya kehidupan mereka secara umum. Lot juga tinggal di tengah angkatan yang bejat dan tidak bermoral yang semuanya sudah menjauh dari segala yang baik. Ia tidak mengikuti orang banyak itu untuk berbuat jahat, tetapi di sebuah kota yang penuh ketidakbenaran, ia masih mau hidup lurus.
Bagaimana dengan kita? Tinggal di tengah dunia ini, masihkah kita tetap memilih untuk hidup menjadi orang benar? Dan apakah kita peduli untuk mendoakan serta bertindak melalui bagiang yang bisa kita kerjakan terhadap ketidakadilan maupun ketidakmoralan yang marak di sekitar kita?
Hari ini merupakan kesempatan untuk memilih menjadi benar di hadapan Tuhan, meski mungkin kita masih harus hidup di tengah-tengah dunia.
~ FG