
Sebuah foto menarik perhatian dunia. Lionel Messi berjalan melewati trofi Piala Dunia dengan tatapan kosong. Ia tidak marah. Tidak menangis. Ia hanya memandang piala itu, seolah sedang mengucap selamat tinggal. Banyak orang menduga itu adalah penampilan terakhirnya di panggung terbesar sepak bola dunia.
Sulit membayangkan apa yang ada di dalam hatinya. Bertahun-tahun latihan. Pengorbanan. Cedera. Tekanan. Mimpi yang mungkin sejak kecil selalu ia bawa. Lalu semuanya berakhir hanya beberapa langkah dari trofi yang diinginkan.
Bukankah hidup juga sering terasa seperti itu?
Kita sudah memberikan yang terbaik. Kita berdoa. Kita bekerja keras. Kita menjaga integritas. Namun promosi jatuh ke orang lain. Pernikahan yang kita perjuangkan tetap berakhir. Pelayanan yang kita bangun justru disalahpahami. Anak yang kita doakan memilih jalan yang berbeda. Ada piala-piala dalam hidup yang akhirnya tidak pernah menjadi milik kita.
Dunia berkata, "Ikhlaskan. Move on." Namun, Alkitab tidak pernah menyuruh kita berpura-pura kuat. Tuhan tidak berkata, "Jangan menangis." Sebaliknya, Dia berkata bahwa Ia dekat kepada orang yang patah hati. Air mata bukan tanda iman yang lemah. Bahkan Yesus sendiri menangis. Tuhan tidak "alergi" terhadap kesedihan kita.
"TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya." (Mazmur 34:19, TB2)
Namun, Alkitab juga tidak berhenti pada kesedihan.
Ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada, "Apakah aku mendapatkan pialanya?", pertanyaannya adalah, "Apakah aku tetap berjalan bersama Tuhan ketika piala itu bukan milikku?"
Musa tidak memasuki Tanah Perjanjian. Daud tidak membangun Bait Allah. Paulus tidak dibebaskan dari penjara. Dari sudut pandang dunia, mereka mugkin gagal menyentuh "trofi". Namun Alkitab tidak mengingat mereka sebagai orang-orang yang gagal. Yang dikenang bukan apa yang mereka genggam di akhir hidup, melainkan kepada Siapa mereka tetap setia.
Mungkin itulah perbedaan terbesar antara dunia dan Kerajaan Allah. Dunia mengukur hidup dari apa yang berhasil kita raih. Tuhan mengukur hidup dari Siapa yang kita percayai ketika impian itu mungkin tidak tercapai.
Ada kalanya Tuhan mengizinkan kita mengangkat piala. Bersyukurlah. Namun, ada kalanya Tuhan mengizinkan kita hanya melewatinya. Pada saat-saat seperti itu, kita belajar penghiburan terbesar bukanlah trofi itu sendiri, melainkan tangan Bapa yang menggenggam kita lebih erat daripada kita menggenggam impian kita.
Pada akhirnya, kemenangan terbesar orang percaya bukanlah semua doa dijawab sesuai keinginan kita. Kemenangan terbesar adalah ketika kita masih tetap percaya serta berserah kepada-Nya. Karena iman bukan berarti kita selalu mendapatkan apa yang kita perjuangkan. Iman berarti kita tetap percaya bahwa Tuhan tetap baik, bahkan ketika piala itu tidak pernah menjadi milik kita.
Tuhan tidak selalu mengubah akhir cerita kita. Sering kali, Dia lebih dahulu mengubah hati kita agar mampu berjalan sampai akhir cerita itu.
"Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Lukas 22:42, TB2)
~ JP