📌 Ringkasan sebelumnya : Markus 14
Markus 14 merupakan salah satu pasal terpenting dalam Injil Markus karena menceritakan peristiwa-peristiwa terakhir sebelum penyaliban Yesus. Pasal ini memperlihatkan kasih, pengorbanan, ketaatan, dan kesetiaan (serta kegagalan) para pengikut-Nya.
Para imam kepala dan ahli Taurat bersekongkol untuk menangkap dan membunuh Yesus secara diam-diam, tetapi mereka menunggu waktu yang tepat agar tidak terjadi kerusuhan di tengah rakyat. Yudas Iskariot pergi kepada imam-imam kepala dan setuju menyerahkan Yesus dengan imbalan uang. Sejak saat itu ia mencari kesempatan untuk mengkhianati-Nya.
Yesus merayakan Paskah bersama murid-murid-Nya. Dalam perjamuan itu Yesus menyatakan bahwa salah seorang murid akan mengkhianati-Nya. Yesus menetapkan Perjamuan Kudus: roti melambangkan tubuh-Nya dan cawan melambangkan darah perjanjian yang dicurahkan bagi banyak orang.
Yesus berdoa dengan sangat sungguh-sungguh kepada Bapa. Ia bergumul menghadapi penderitaan yang akan datang, namun akhirnya berkata, "Bukan apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki." Sementara itu, murid-murid tertidur dan gagal berjaga-jaga bersama-Nya.
Kasih kepada Yesus dinyatakan melalui pengorbanan yang tulus, seperti perempuan yang mengurapi-Nya. Hal ini menekankan etaatan kepada kehendak Allah lebih penting daripada kenyamanan pribadi, sebagaimana teladan Yesus di Getsemani. Manusia dapat jatuh dan gagal, seperti Petrus, tetapi penyesalan yang tulus membuka jalan bagi pemulihan. Yesus dengan rela menyerahkan diri untuk menggenapi rencana keselamatan Allah bagi umat manusia.
📖 Pengantar Markus 15
Markus pasal 15 menceritakan puncak penderitaan Yesus, yaitu proses pengadilan oleh pemerintah Romawi, penyaliban, kematian, dan penguburan-Nya. Pasal ini menggenapi banyak nubuat Perjanjian Lama tentang Mesias yang menderita, sekaligus menunjukkan kasih Allah yang dinyatakan melalui pengorbanan Yesus Kristus.
Setelah diadili oleh Mahkamah Agama Yahudi pada malam hari, Yesus dibawa kepada gubernur Romawi, Pontius Pilatus, karena hanya pemerintah Romawi yang memiliki wewenang menjatuhkan hukuman mati. Meskipun Pilatus tidak menemukan kesalahan yang layak dihukum mati, ia akhirnya menyerahkan Yesus untuk disalibkan demi memuaskan tuntutan orang banyak.