📌 Ringkasan sebelumnya : Markus 13
Bait Allah di zaman Yesus merupakan bangunan yang didirikan oleh Zerubabel dan Ezra. Bangunan ini direnovasi dengan megah oleh Herodes pada tahun 20-19 sM. Kemegahan Bait Allah membuat setiap mata terkagum-kagum. Bukan karena luas Bait Allah, melainkan lapisan lempengan emas yang menghiasi seluruh bangunan tersebut. Saat cahaya matahari menyinari bangunan itu, Bait Allah memantulkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata. Inilah yang menjadi kebanggaan orang-orang Yahudi.
Ketika Yesus melihat kemegahan bangunan Bait Allah, Ia menubuatkan kehancuran Bait Allah. Ucapan Yesus ditafsir oleh para murid-Nya sebagai tanda akhir zaman. Yesus tidak melihat peristiwa itu sebagai akhir zaman, melainkan sebagai ciri-ciri zaman akhir. Pertama, munculnya banyak penyesat yang memakai namaNya dan mengaku dirinya sebagai juruselamat. Kedua, perang ada di mana-mana. Ketiga, kelaparan dan gempa bumi akan menimpa umat manusia. Keempat, Injil akan diberitakan dan didengar oleh semua bangsa. Jika semua ini terjadi, hal itu merupakan suatu permulaan kesengsaraan datangnya zaman baru, yaitu langit dan bumi baru. Tetapi Yesus menghibur para murid untuk tidak kuatir karena cepat lambat momen itu akan datang.
Selain itu, Yesus juga memperingatkan para muridNya untuk mawas diri terhadap Ajaran sesat yang merajalela dan penderitaan yang akan dialami oleh mereka karena nama-Nya. Walau mereka menderita, dibenci, dan dibunuh, Yesus memberi jaminan bahwa Roh Allah akan senantiasa menyertai hidup mereka. Bahkan Allah akan mengaruniakan hikmat-Nya pada mulut mereka untuk menyaksikan Kristus bagi orang banyak. Lebih dari itu, Yesus berjanji bahwa setiap orang yang mempertahankan iman kepada Kristus dan rela mati demi keyakinan yang dipercayainya, maka hidup kekal menjadi upah mereka.
📖 Pengantar Markus 14
Sungguh ironis, menjelang Hari Raya Paskah dan hari Raya Roti tidak beragi para imam kepala dan ahli-ahli Taurat justru mengadakan pertemuan untuk merencanakan penangkapan dan pembunuhan Yesus dengan tipu muslihat. Sebagai imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, sesungguhnya mereka tahu betul apa yang seharusnya dipersiapkan menjelang kedua hari raya tersebut. Seharusnya waktu itu mereka mempersiapkan diri untuk upacara kurban dan mengadakan perkumpulan kudus. Akan tetapi, mereka justru sibuk memikirkan strategi dan waktu yang tepat untuk menangkap dan membunuh Yesus