📌 Ringkasan sebelumnya : Matius 23
Tuhan Yesus kini mempertentangkan orang Farisi dan para pemimpin agama dengan fakta-fakta kebobrokan mereka. Ia sebenarnya menghargai posisi ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Ia bahkan menganjurkan para murid-Nya untuk menerima dan melakukan ajaran mereka. Yang Ia persoalkan di sini adalah sikap hidup mereka. Pengajar yang benar di hadapan Tuhan adalah mereka yang bukan hanya mengajar orang lain melainkan juga mengajar diri sendiri, sehingga totalitas kehidupan mereka menjadi pengajaran yang hidup. Pengajar yang baik bersedia menanggung beban yang berat di atas bahu sendiri, bukan justru meletakkannya pada bahu orang lain.
Orang-orang Farisi itu bukan hanya tidak melakukan apa yang mereka ajarkan, mereka menjalankan segala kegiatan rohani bukan untuk Allah, melainkan untuk dipuji manusia. Di balik kegiatan rohani mereka terselubung keinginan untuk beroleh hormat dan pujian. Sikap demikian merusak hakikat agama. Kerohanian dan kegiatan ibadah masih mereka lakukan, namun motivasinya adalah penyembahan diri sendiri. Seharusnya keagamaan yang sejati adalah hidup di hadapan Allah, entah dilihat manusia atau tidak. Hidup demikian menghasilkan penghormatan sejati kepada Allah. Orang demikian tidak akan menyesuaikan kerohanian dengan pendapat manusia.
Pemimpin rohani tidak boleh menuntut disebut Rabi dan orang yang dipimpin harus menjauhi pemberian hormat berlebihan kepada pemimpin. Pemimpin sejati harus belajar menjadi murid, rendah hati, serta tunduk ke bawah otoritas Allah sebagai kekuatan kepemimpinannya. Kultus individu tidak saja mengancam dunia politik, lebih lagi ia merupakan bahaya laten dalam kerohanian.
📖 Pengantar Matius 24
Pada setiap zaman selalu ada tokoh atau aliran kekristenan yang memprediksi waktu kedatangan Kristus. Sering kali prediksi ini mendapat pembenaran dari isu-isu perang dan bencana yang sedang terjadi, lalu disambut oleh orang-orang yang sudah lelah dengan penderitaan hidup. Akibatnya, mereka termakan oleh ajaran palsu dan melakukan berbagai perbuatan sia-sia yang menyesatkan diri mereka sendiri.
Tuhan tidak mengajari kita untuk menebak-nebak waktu kedatangan-Nya. Ia memanggil kita untuk menyadari bahwa iman Kristen akan berhadapan dengan realitas hidup yang sulit, bahkan dengan situasi yang penuh kebencian dan permusuhan.