📌 Ringkasan sebelumnya : Obaja 1
Edom, keturunan Esau, dikenal sebagai bangsa yang bijaksana, kuat, dan kejam. Mereka tinggal di wilayah yang subur. Kota mereka berada di ketinggian pegunungan yang dikelilingi bukit batu dan jurang terjal, menjadikannya sulit dijangkau musuh. Semua keunggulan itu menunjang keangkuhannya sampai Edom berkata, "Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?"
Keangkuhan Edom dilukiskan oleh Nabi Obaja sebagai saudara yang menertawakan Yerusalem saat orang asing menjajah dan melakukan kekerasan. Edom bersukacita atas kesusahan saudaranya, menari-nari dan bersorak-sorai di atas penderitaan, bahkan ikut menambah kemalangan dan kesusahan atas keturunan Yakub. Edom berdiri dalam keangkuhan seakan-akan dirinya yang tertinggi di seluruh dunia.
Ketinggian hati Edom menantang Allah sehingga Allah menunjukkan kehadiran dan kuasa-Nya. Kata "Janganlah ..." diserukan berulang kali sebagai peringatan Allah karena "hari TUHAN", yakni hari penghakiman telah dekat. Pada hari itu Edom tidak akan bisa mengagungkan dirinya lagi. Perbuatan Edom akan kembali menimpa kepalanya sendiri.
Allah tak tinggal diam ketika umat-Nya ditertawakan, direndahkan, dan diperlakukan tidak adil. Allah tidak menutup mata terhadap detail kehidupan umat-Nya. Ia membalaskan karena Ia berkuasa atas penghakiman dan penghukuman.
📖 Pengantar Yunus 1
Perjanjian Allah dengan Abraham menyebutkan bahwa melalui keturunan Abraham, Allah akan memberkati bangsa-bangsa. Namun belum ada orang Israel yang pernah pergi ke bangsa lain untuk menceritakan kebesaran Allah. Kisah Yunus satu-satunya kisah di PL, di mana ada orang Israel yang diperintahkan untuk pergi ke bangsa nonIsrael mewartakan panggilan pertobatan.