
Beberapa waktu yang lalu, seorang murid memperkenalkan saya pada sebuah buku berjudul The Courage to Be Disliked karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga. Salah satu gagasan yang paling terkenal dari buku itu adalah bahwa banyak penderitaan manusia muncul karena kita terlalu sibuk mencari penerimaan orang lain.
Kita takut ditolak, takut dikritik, takut dianggap berbeda. Akibatnya, kita sering hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain daripada menjalani apa yang kita yakini benar.
Ketika membaca gagasan itu, saya langsung teringat pada Yesus.
Yesus mungkin adalah Pribadi yang paling dikagumi dalam sejarah. Namun ironisnya, Ia juga salah satu Pribadi yang paling tidak disukai pada zaman-Nya. Ia menegur kemunafikan orang Farisi ketika semua orang menghormati mereka. Ia berbicara dengan perempuan Samaria ketika budaya saat itu menganggap hal itu tidak pantas. Ia menyembuhkan pada hari Sabat ketika para ahli Taurat menganggapnya pelanggaran. Berkali-kali Yesus memilih kebenaran daripada popularitas.
Namun ada satu hal penting yang sering dilupakan. Yesus tidak berbeda demi terlihat berbeda. Ia tidak mencari kontroversi. Ia tidak sengaja memancing kemarahan orang. Semua yang Ia lakukan lahir dari kasih kepada Bapa dan kasih kepada manusia.
Inilah perbedaan besar antara keberanian dan keras kepala.
Di zaman media sosial ini, sangat mudah menjadi "berbeda". Sangat mudah menulis komentar pedas, membuat pernyataan kontroversial, atau menyerang pandangan orang lain. Tetapi keberanian Kristen bukanlah keberanian untuk menyakiti. Keberanian Kristen adalah kemampuan untuk tetap mengatakan yang benar dengan kasih, bahkan ketika itu tidak populer.
Paulus mengingatkan, "Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus" (Efesus 4:15 TB2).
Perhatikan dua kata itu: kebenaran dan kasih. Jika kita memiliki kasih tanpa kebenaran, kita akan mengorbankan prinsip demi diterima orang. Sebaliknya, jika kita memiliki kebenaran tanpa kasih, kita bisa menjadi orang yang benar namun melukai banyak orang.
Yesus memegang keduanya sekaligus. Ia berani menegur, tetapi juga berani mengampuni. Ia berani berbeda, tetapi tidak pernah kehilangan belas kasihan.
Kisah Para Rasul penuh dengan contoh-contoh seperti ini. Petrus dan Yohanes berdiri di hadapan Mahkamah Agama dan berkata, "Kami tidak mungkin berhenti berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar" (Kisah Para Rasul 4:20, TB2). Mereka tahu konsekuensinya. Mereka bisa dipenjara, diancam, bahkan dibunuh. Namun, mereka juga tidak mengobarkan kebencian. Mereka hanya tetap setia pada kebenaran yang telah mereka terima.
Tantangan kita hari ini adalah berusaha untuk hidup bukan demi mendapatkan tepuk tangan semua orang, tetapi juga tidak menggunakan kebenaran sebagai alasan untuk menjadi kasar. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang suka berdebat ataupun yang merasa diri lebih hebat. Dunia memerlukan orang-orang percaya yang memiliki keberanian Yesus yang berdiri tegak untuk apa yang benar, tetapi melakukannya dengan kasih, hikmat, serta kerendahan hati.
Semoga pilihan hidup kita lahir dari pengharapan kepada Tuhan, bukan dari ketakutan akan penilaian manusia. Karena pada akhirnya, menjadi murid Kristus berarti menyenangkan Tuhan lebih daripada menyenangkan dunia. Dan terkadang, itu membutuhkan keberanian untuk tidak selalu disukai. Karena mengikut Yesus bukan berarti mencari pengakuan maupun mengobarkan penolakan. Tetapi ketika kebenaran dan popularitas harus dipilih, murid Kristus tahu kepada Siapa ia harus setia.
"May your choices reflect your hopes, not your fears." (Nelson Mandela)
Galatia 1:10 (TB2), "Sebab jelaslah sekarang: Aku mencari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Jika aku masih mencoba menyenangkan manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus."
Kalian dapat melihat bahwa saya sama sekali tidak berharap diakui oleh manusia. Saya hanya mengharapkan pengakuan dari Allah, dan ingin menyenangkan hati Allah. Seandainya saya masih berusaha menyenangkan manusia, berarti saya bukanlah pelayan Kristus. (BSD)
Do you think I speak this strongly in order to manipulate crowds? Or curry favor with God? Or get popular applause? If my goal was popularity, I wouldn't bother being Christ's slave. (MSG)
~ JP