
Sebuah drama Korea berjudul Teach You a Lesson lahir dari kegelisahan yang nyata di Korea Selatan tentang pendidikan yang dianggap semakin kehilangan arah. Murid tidak menghormati guru. Orangtua menekan sekolah demi kepentingan anaknya. Guru takut menegakkan disiplin karena khawatir dilaporkan. Sistem yang awalnya dibuat untuk melindungi justru dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.
Dalam cerita itu, muncul sebuah badan khusus bernama ERPB yang datang dengan cara-cara yang keras dan kontroversial untuk mengguncang sistem yang sudah terlalu lama rusak.
Saat menontonnya, saya tidak sedang memikirkan pendidikan negara itu. Saya justru merenungkan diri sendiri.
Mengapa sering kali perubahan baru terjadi setelah ada guncangan? Mengapa manusia cenderung baru berhenti ketika keadaan sudah sangat tidak nyaman? Mengapa nasihat yang lembut sering diabaikan, tetapi peristiwa yang menyakitkan justru membangunkan kita?
Mungkin karena hati manusia memiliki kemampuan "luar biasa" untuk beradaptasi dengan penyimpangan. Sedikit demi sedikit kita menganggap yang tidak sehat sebagai normal. Sedikit demi sedikit kita menoleransi apa yang dulu kita anggap salah. Lama-kelamaan kita bahkan tidak sadar bahwa kita sudah jauh dari tempat semula.
Amsal 27:5 (TB2), "Lebih baik teguran yang nyata-nyata daripada kasih yang tersembunyi."
Orang yang benar-benar mengasihi akan berani menegur temannya. Siapa yang diam saja melihat temannya berbuat salah, berarti tidak sungguh mengasihinya. (TSI)
Open criticism is better than unexpressed love. (GWV)
Hal yang sama pernah terjadi berulang kali dalam Alkitab. Ketika Daud berzina dengan Batsyeba dan berusaha menutupi dosanya, Tuhan tidak langsung menghukumnya. Tuhan lebih dahulu mengutus nabi Natan. Menariknya, Natan tidak datang dengan kemarahan segera. Ia datang dengan sebuah cerita.
Ketika Daud akhirnya sadar, teguran itu terasa seperti tamparan yang membangunkannya dari tidur panjang.
Demikian juga Israel. Berkali-kali Tuhan mengirim nabi untuk memperingatkan mereka. Namun ketika peringatan itu diabaikan, datanglah pendisiplinan. Bukan karena Tuhan berhenti mengasihi mereka, tetapi justru karena Dia mengasihi mereka terlalu besar untuk membiarkan mereka terus berjalan menuju kehancuran.
Ibrani 12:6, (TB2), "Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."
Tuhan membuat setiap orang yang dikasihi-Nya berdisiplin dan menghukum setiap orang yang diterima-Nya sebagai anak. (VMD)
For the Lord corrects and disciplines everyone whom He loves, and He punishes, even scourges, every son whom He accepts and welcomes to His heart and cherishes. (AMP)
Ayat ini kurang populer, sebab kita lebih suka berbicara tentang berkat daripada didikan. Padahal, sering kali kasih Tuhan justru terlihat ketika Ia tidak membiarkan kita nyaman dalam kesalahan ataupun pelanggaran.
Bersyukurlah apabila Tuhan masih mengirimkan orang-orang yang berani berkata, "Ada yang salah di sini." Kadang perkataan seperit itu tidak nyaman. Tetapi, mungkin justru ketidaknyamanan itu adalah kasih karunia. Dan saat kita menolak dipertanyakan, maka kemungkinan kita juga melakukan hal-hal yang patut dipertanyakan.
Sebab sentilan kecil sering kali mudah diabaikan. Tetapi guncangan yang tepat dapat menyelamatkan kita dari kehancuran yang lebih besar. Miliki hati yang lembut untuk menerima teguran. Jangan biarkan diri begitu nyaman dalam kebiasaan dan cara berpikir yang salah sampai tidak lagi peka terhadap suara Tuhan. Jika ada area dalam hidup kita yang mungkin mulai melenceng, kembalilah sebelum semakin jauh. Izinkan Dia membentuk kita melalui kasih-Nya, bahkan ketika kasih itu datang dalam bentuk yang tidak nyaman.
Jadi, pertanyaan yang layak kita renungan hari ini bukan, "Mengapa Tuhan mengizinkan guncangan ini terjadi?" Melainkan, "Apa yang Tuhan sedang coba bangunkan dalam diriku melalui guncangan ini?"
Kasih yang sejati tidak selalu membuat kita nyaman. Kadang kasih datang dalam bentuk teguran yang menolak membiarkan kita terus tersesat.
~ JP