
Jika dipikir-pikir, sering kali kita lebih sibuk memikirkan bagaimana terlihat baik di mata orang lain daripada terlihat benar di hadapan Tuhan.
Namun, kita didorong untuk lebih peduli pada karakter daripada reputasi. Apalagi di zaman media sosial, nasihat ini terasa semakin relevan. Sebab, kita hidup di era ketika orang bisa menghabiskan banyak waktu mengelola apa yang terlihat oleh orang lain. Foto dipilih dengan hati-hati. Kata-kata disusun dengan cermat. Citra dibangun sedemikian rupa.
Tidak ada yang salah dengan menampilkan diri baik. Namun masalah mungkin muncul ketika kita lebih sibuk membangun reputasi daripada membangun karakter.
Reputasi adalah apa yang orang pikirkan tentang kita. Karakter adalah siapa diri kita ketika tidak ada yang melihat. Reputasi bisa dibentuk dalam hitungan hari. Karakter dibentuk sepanjang hidup. Reputasi bisa dibuat dengan pencitraan. Karakter hanya bisa dibangun melalui proses.
Alkitab memiliki banyak hal untuk dikatakan tentang hal ini. Ketika nabi Samuel mencari pengganti raja Saul, ia melihat Eliab dan langsung terkesan dengan penampilannya. Namun Tuhan berkata: "Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati "(1 Samuel 16:7, TB2).
Tuhan tidak tertipu oleh reputasi. Tuhan melihat karakter.
Yesus pun berkali-kali berhadapan dengan orang-orang yang reputasinya sangat baik di mata masyarakat, seperti para ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka dihormati, disegani, dan dianggap teladan rohani. Namun, Yesus justru menegur mereka dengan keras, karena ada jurang antara apa yang terlihat dan apa yang sebenarnya ada di dalam hati. Masalahnya bukan reputasi. Masalahnya adalah karakter yang tidak sejalan dengan reputasi yang mereka miliki.
Markus 7:6b (TB2), "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku."
Bangsa ini mengatakan dengan mulut bahwa mereka ingin hidup dekat kepada-Ku, Mereka menghormati Aku hanya dengan kata-kata, tetapi hati mereka jauh dari Aku. (TSI)
These people make a big show of saying the right thing, but their heart isn't in it. (MSG)
Reputasi penting, namun nama baik atau karakter yang sejati ialah hasil dari kehidupan yang benar. Sekadar nama baik bukan tujuan utama. Karakterlah yang harus menjadi fondasinya. Sebab reputasi yang tidak ditopang oleh karakter, pada akhirnya akan runtuh. Sebaliknya, karakter yang kuat akan tetap berdiri, sekalipun tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.
Sebab pada akhirnya, tujuan hidup orang percaya bukan membangun citra diri, melainkan mengizinkan karakter Kristus terlihat melalui hidupnya. Jadi, pertanyaan yang layak kita renungkan hari ini bukanlah, "Bagaimana orang lain melihat saya?" Tetapi, "Siapa saya ketika hanya Tuhan yang melihat?"
Karena karakter adalah siapa diri kita sebenarnya. Dan karakter yang paling indah adalah karakter yang makin menyerupai Dia. Reputasi mungkin dapat membuka sebuah pintu, tetapi karakter menentukan apa yang terjadi setelah pintu itu terbuka.
Semoga karakter kita semakin menyerupai karakter Kristus. Hidup yang tidak hanya memiliki nama baik, tetapi juga hati yang berkenan kepada Tuhan.
"Be more concerned with your character than your reputation because your character is what you really are, while your reputation is merely what others think you are." (John Wooden)
~ JP