
Saya rasa saya cukup tertempelak ketika kedapatan oleh istri saya bahwa saya sedang mengeluhkan sebuah keadaan. Bersungut-sungut. Ataupun karena merasa kecewa akan sesuatu maupun seseorang.
Istri saya berkata, "Bersungut-sungut membuatmu lupa akan kebaikan-kebaikan yang Tuhan telah perbuat."
Firman Tuhan juga kerap menyarankan supaya kita tidak bersungut-sungut.
Filipi 2:14-15, "Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia."
1 Korintus 10:10: "Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut."
Janganlah menggerutu mengenai Allah dan perlakuan-Nya terhadap Saudara, seperti yang dilakukan oleh beberapa di antara mereka, sehingga Allah menyuruh malaikat-Nya membinasakan mereka. (FAYH)
We must be careful not to stir up discontent; discontent destroyed them. (MSG)
Sebaliknya, kita diajak untuk senantiasa bersyukur, mengucap syukur.
1 Tesalonika 5:18: "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."
Intinya, bersungut-sungut dianggap sebagai perbuatan yang tidak mencerminkan sebagai anak-anak Allah, serta mungkin berisiko mendatangkan penghukuman, sedangkan sikap yang mau bersyukur adalah menaati kehendak Allah.
Robert Jeffress seorang hamba Tuhan pernah menulis:
"There comes a time in every man's life when he wakes up and realizes he will never marry Cindy Crawford, be president of his company, or have a million dollars. At that point, he can leave his wife, quit his job, buy a red convertible, and search for a new road to travel. Or, like the Apostle Paul, he can learn the powerful secret of contentment."
"Akan ada waktunya dalam kehidupan tiap manusia (pria khususnya dalam hal ini), yaitu saat ia terbangun di pagi hari dan menyadari bahwa ia takkan pernah bisa menikahi model secantik Cindy Crawford, atau menjadi direktur di perusahaan, atau memiliki uang jutaan dolar. Di titik momen seperti itu, ia bisa saja meninggalkan istrinya, atau berhenti dari pekerjaannya, membeli mobil red convertible, lalu mencoba mencari jalan yang baru untuk berpetualang. Atau, seperti halnya rasul Paulus, ia bisa belajar menerima rahasia besar dari merasa cukup dan bersyukur."
Bagaimana dengan kita hari ini, masihkah kita bersungut-sungut, ataukah bersyukur?
~ FG