
"Darah muda darahnya para remaja…" mungkin ada yang pernah mendengar lirik lagu itu, ataupun ada yang tidak familiar. Istilah darah muda pun biasanya menggambarkan sebuah keberanian, semangat, energi, serta keinginan mencoba hal-hal baru, terutama oleh para generasi atau anak-anak muda. Sebaliknya, generasi yang lebih tua sering kali dianggap terlalu berhati-hati, lambat, tidak mau berubah, bahkan takut mengambil risiko.
Namun, terkait Kerajaan Tuhan di muka bumi ini, apakah hanya dibangun dan diperluas oleh salah satu generasi saja, yaitu generasi muda, ataupun generasi tua semata-mata?
Jika kita mungkin membaca Alkitab, hampir tidak ada pekerjaan besar Tuhan yang diselesaikan oleh satu generasi sendirian.
Musa memimpin Israel keluar dari Mesir, tetapi Yosua yang memimpin mereka masuk Tanah Perjanjian. Elia memulai banyak perkara besar, tetapi Elisa melanjutkan tongkat estafet pelayanan. Yesus sendiri melayani di bumi hanya sekitar tiga tahun. Secara manusia, waktu itu terasa terlalu singkat. Namun, nyatanya tujuan-Nya memang membentuk murid-murid yang akan meneruskan pelayanan serta misi Kerajaan Allah.
Kerajaan Allah pun tidak dibangun oleh mereka yang merasa paling lama mengikuti Yesus, melainkan sesungguhnya oleh mereka-mereka yang setia mengikuti-Nya.
Paulus tidak berhenti pada dirinya sendiri, ia membimbing Timotius, Titus, Silas, Lukas, dan banyak rekan pelayanan lainnya. Generasi demi generasi.
2 Timotius 2:2 (TSI), "Semua ajaran yang sudah kamu dengar ketika saya mengajar saudara-saudari seiman, ajarkan dan percayakanlah itu kepada saudara-saudari yang lain juga, khususnya mereka yang mampu mengajar dan yang akan setia meneruskannya kepada orang lain lagi."
And the [instructions] which you have heard from me along with many witnesses, transmit and entrust [as a deposit] to reliable and faithful men who will be competent and qualified to teach others also. (AMP)
Itulah cara Tuhan bekerja. Ia melibatkan kita.
Bukan satu angkatan. Bukan satu tokoh. Melainkan generasi demi generasi. Karena Kerajaan Allah bukan perlombaan lari seratus meter. Kerajaan Allah adalah estafet. Pelari tercepat sekalipun tidak akan memenangkan estafet jika gagal menyerahkan tongkat kepada pelari berikutnya.
Dalam Kerajaan Allah, kita berjalan bersama. Yang tua membawa hikmat. Yang muda membawa keberanian. Yang tua mengingatkan arah. Yang muda membantu mempercepat langkah. Ketika keduanya saling menghormati, Kerajaan Allah bergerak jauh lebih kuat daripada jika masing-masing berjalan sendiri.
Bagaimana dengan Saudara dan saya? Coba tanyakan kepada pribadi di depan cermin, jika kita masih muda, apakah kita cukup rendah hati untuk belajar dari mereka yang telah lebih dahulu berjalan bersama Tuhan? Jika kita sudah lebih senior, apakah kita cukup murah hati untuk mempercayakan tongkat estafet kepada generasi berikutnya?
Karena pada akhirnya, kehebatan sebuah generasi tidak diukur dari seberapa cepat mereka berlari. Melainkan, dari seberapa baik mereka meneruskan tongkat kepada generasi sesudahnya. Kerajaan Allah tidak dibangun oleh satu generasi yang lebih hebat, tetapi oleh generasi-generasi yang setia meneruskan estafet iman serta kasih karunia.
Mazmur 145:4, "Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu."
Setiap keturunan akan memuji Engkau dan menceritakan kepada keturunan berikutnya tentang hal-hal yang besar yang Kaulakukan. (VMD)
Generation after generation stands in awe of your work; each one tells stories of your mighty acts. (MSG)
~ JP