
Pernahkah merasa sedang dalam tekanan? Saya rasa, sebagian besar dari kita pernah.
Bukan hanya tekanan pekerjaan atau keluarga, tetapi tekanan psikis, mental, ataupun rohani yang membuat hati terasa sesak, takut, serta dapat kehilangan damai sejahtera. Bisa jadi, itu adalah intimidasi dari Iblis. Musuh kita, si jahat, sangat ahli dalam membisikkan ketakutan, kecemasan, dan keputusasaan, dan ingin kita hanya fokus pada masalah, pada keterbatasan, pada kegagalan masa lalu—sehingga melupakan kebesaran, kebaikan, kemurahan Tuhan.
Namun, hari ini firman Tuhan mengingatkan kita sebuah resep mujarab: sukacita.
Filipi 4:4, "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!"
Rejoice in the Lord always [delight, gladden yourselves in Him]; again I say, Rejoice! (AMP)
Celebrate God all day, every day. I mean, [revel]* in him! (MSG)
*sukacita tiada tanding
Because you have a relationship with the Lord, always rejoice! I say again, rejoice! (MSG)
Bukan sukacita karena situasi sedang menyenangkan. Bukan tawa palsu yang menutupi luka. Tapi sukacita yang di dalam Tuhan. Sukacita yang lahir dari keyakinan bahwa Tuhan tetap pegang kendali, bahwa darah Yesus telah melayakkan dan menyucikan kita, bahwa masa depan kita ada di tangan-Nya yang merajut kehidupan kita menjadi lebih indah serta bermakna.
Ketika kita memilih untuk bersukacita—memuji Tuhan dalam "badai", mengucap syukur dalam keterbatasan, tersenyum meski air mata belum kering—maka kita sedang menyatakan iman. Dan pada saat itu, intimidasi Iblis runtuh.
Paulus pun menulis surat Filipi dari balik penjara. Tubuhnya terbelenggu, namun jiwanya merdeka. Ia bukan bersukacita sekadar karena keadaan luar, tetapi di dalam Tuhan. Tuhan yang sama yang menyertainya di penjara, menyertai juga untuk kita hari ini.
Jadi, jalanilah hari ini, apa pun yang kita kerjakan, dengan senyuman dan iman. Tuhan menyertai, menuntun langkah kita.
"Apa pun bisa saja dirampas dari manusia, kecuali satu hal: kebebasan untuk menentukan sikap dalam segala keadaan, kebebasan untuk memilih jalannya." (Viktor E. Frankl)
~ YS