
Kita mungkin paham tentang buah Roh. "Satu buah, sembilan rasa".
Buah Roh dimulai dengan kasih, dan diakhiri dengan penguasaan diri (Roma 5:22-23).
Hari ini kita akan berfokus pada pengendalian, penguasaan diri. Suatu topik atau hal yang mungkin dihindari banyak orang, ataupun kerap kali kita gagal melakukannya.
Penguasaan diri sebagai "penutup" dari daftar buah Roh, mencirikan kedewasaan rohani yang sejati. Sebab, tidak banyak kita sanggup mengendalikan diri dalam banyak hal—lidah atau perkataan, pikiran yang liar, keinginan ataupun kehendak pribadi, memanfaatkan waktu luang, dan lainnya. Dan yang hanya bisa kita hasilkan melalui hubungan kita dengan--maupun oleh kekuatan dari--Roh Kudus. Bukan sekadar stoikisme manusiawi, tetapi lebih pada anugerah untuk hidup kudus supaya siap sedia senantiasa demi pelayanan yang efektif.
Pengendalian diri adalah kemampuan untuk memerintah keinginan dan dorongan seseorang, menyelaraskannya dengan kehendak Tuhan. Dalam konteks sejarah zaman Paulus, pengendalian diri adalah kebajikan yang dihargai dalam etika Yahudi dan Yunani-Romawi. Sifat yang penting untuk menjalani hidup yang menghormati Tuhan, karena membantu kita untuk menolak godaan.
Penguasaan diri menunjukkan pengendalian terhadap keinginan, dorongan, dan kebiasaan yang dimampukan oleh Roh Kudus, sehingga semua hal itu tidak sebaliknya malah menguasai diri kita.
Amsal 25:28 (BIS), "Orang yang tidak dapat menguasai dirinya seperti kota yang telah runtuh pertahanannya."
He who has no rule over his own spirit is like a city that is broken down and without walls. (AMP)
A person without self-control is like a house with its doors and windows knocked out. (MSG)
Losing self-control leaves you as helpless as a city without a wall. (CEV)
Kisah Para Rasul 24:25 (TSI), "Tetapi waktu Paulus menjelaskan tentang cara hidup yang benar di mata TUHAN, tentang menguasai diri, dan bagaimana nanti Allah akan menghakimi manusia, Feliks menjadi takut lalu berkata, 'Cukup sekian dulu! Kamu boleh pergi sekarang. Kalau ada kesempatan, saya akan memanggilmu lagi.'"
But as he continued to argue about uprightness, purity of life (the control of the passions), and the judgment to come, Felix became alarmed and terrified and said, Go away for the present; when I have a convenient opportunity, I will send for you. (AMP)
As Paul continued to insist on right relations with God and his people, about a life of moral discipline and the coming Judgment, Felix felt things getting a little too close for comfort and dismissed him. "That's enough for today. I'll call you back when it's convenient." (MSG)
Paul explained to them about what God requires people to do in order to please him. He also explained about God requiring people to control how they act. Paul also told him that there will be a time when God will judge people. Felix became alarmed after hearing those things. So he said to Paul, "That is all I want to hear now. When there is a time that is convenient I will ask you to come to me again." (DEIBLER)
~ FG