
Yakobus 1:2 (TSI), "Saudara-saudari, setiap kali keyakinan kalian masing-masing diuji lewat berbagai kesusahan, anggaplah semua itu sebagai berkat dan bersukacitalah karenanya."
Consider it a sheer gift, friends, when tests and challenges come at you from all sides. (MSG)
When all kinds of trials and temptations crowd into your lives, my brothers, don't resent them as intruders, but welcome them as friends! (DEIBLER)
Sering kali pergumulan akan selalu bersamaan dengan rasa pahit di dalam hati kita. Ada rasa sedih, takut, maupun lelah, dan seterusnya. Tidak nyaman? Yes. Sebab tidak ada satu pun orang yang suka berada dalam situasi yang menyakitkan.
Tetapi, untuk kita yang sudah dewasa secara rohani, maka kita akan melihatnya juga sebagai kesempatan untuk memperoleh pelajaran, alih-alih kita hanya melihatnya sebagai kesulitan, karena kita tahu ada maksud Tuhan di balik itu semua.
Bukan sekadar rasanya di dalam hati yang berubah, namun kita yang sudah dapat berdamai dan "bersahabat" dengan mungkin rasa pahit yang ada oleh karena pergumulan itu. Rasa pahit mungkin tetap ada. Tetapi hati kita yang diubahkan.
Kita belajar untuk berdamai dengan rasa pahit itu, bahkan bersahabat dengannya, karena kita tahu bahwa Allah yang sama yang mengizinkan pergumulan, juga setia menyertai hingga akhir.
Paulus pun pernah mengalami hal serupa. Ia berkata, "Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita" (Roma 8:18). Paulus tidak menyangkal penderitaan, tetapi ia melihat lebih jauh ke depan—ke kemuliaan yang disediakan Allah.
Maka, jika hari ini kita sedang dalam masa yang terasa pahit, jangan menyerah. Bukan karena rasa itu akan segera hilang, tetapi karena Allah belum selesai dengan hidup kita. Ia sedang membentuk setiap kita untuk menjadi pribadi-pribadi yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih serupa dengan Kristus.
So, stay strong folks because God is not finished with us yet.
~ YS