
Lukas 9:46, "Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka."
Suatu hari terjadilah perselisihan di antara murid-murid Yesus tentang siapa yang nomor satu di antara mereka. (TSI)
But a controversy arose among them as to which of them might be the greatest [surpassing the others in excellence, worth, and authority]. (AMP)
They started arguing over which of them would be most famous. (MSG)
Mengapa para murid bertengkar? Karena mungkin mereka membandingkan diri satu sama lain. Petrus bisa saja merasa lebih senior, atau Yakobus serta Yohanes merasa lebih istimewa (anak-anak guruh; Markus 3:17), Yudas mungkin merasa lebih pintar mengatur keuangan. Mereka sibuk melihat ke samping, bukan ke atas (kepada Yesus) dan ke bawah (kepada kebutuhan sesama).
Inilah sering kali yang menjadi akar dosa kesombongan: kebutuhan untuk diakui, untuk menjadi nomor satu, untuk merasa lebih hebat daripada orang lain. Suatu perasaan yang berlebih-lebihan tentang kepentingan dan harga diri di dalam seseorang yang percaya akan kebaikan, keunggulan, dan prestasinya sendiri. Kecenderungan yang tak terelakkan dari sifat manusia dan dunia adalah ke arah kesombongan, bukan kerendahan hati.
Padahal, firman Tuhan hari ini mengajarkan untuk rendah hati, dan justru kebesaran yang sejati ialah mengasihi serta melayani orang lain.
Lukas 9:48b (FAYH), "Kasihmu kepada orang lain merupakan ukuran kebesaranmu.'"
Remember that those among you who think of themselves as being very unimportant will be the ones whom God considers to be great. (DEIBLER)
You become great by accepting, not asserting. Your spirit, not your size, makes the difference. (MSG)
Pdt. Niko Njotorahardjo juga sering mengingatkan untuk rendah hati, bergantung penuh dan percaya pada pimpinan Tuhan. Salah satu kerendahhatian beliau ialah merasa tidak perlu memasang foto beliau pada pengumuman-pengumuman untuk jadwal khotbah beliau, serta pernah juga tidak bersedia --namun sambil tetap berterima kasih-- untuk menerima penghargaan dari pihak-pihak tertentu atas pencapaian beliau.
Sementara itu, catatan Full Life menegaskan, karena manusia telah jatuh dalam dosa berpembawaan egosentris, maka dunia kurang menghargai sifat rendah hati. Sebaliknya, firman Tuhan sangat mementingkan sifat rendah hati. Bersifat rendah hati menyadarkan kelemahan-kelemahan kita dan lekas menghormati Allah serta orang lain atas hal-hal yang kita kerjakan.
Jadi hari ini, rendah hatilah, jangan membanding-bandingkan diri lagi atau berpikir kita adalah lebih hebat daripada orang lain. Lagipula, bukankah kita semua akan meninggalkan dunia ini tanpa membawa apa pun?
Filipi 2:3 (TSI), "Apa pun yang kamu lakukan, janganlah mementingkan kepentinganmu sendiri atau menonjolkan diri. Utamakanlah kepentingan setiap saudara seiman lebih daripada kepentinganmu sendiri, dan tetaplah rendah hati."
Do nothing from factional motives [through contentiousness, strife, selfishness, or for unworthy ends] or prompted by conceit and empty arrogance. Instead, in the true spirit of humility (lowliness of mind) let each regard the others as better than and superior to himself [thinking more highly of one another than you do of yourselves]. (AMP)
Don't push your way to the front; don't sweet-talk your way to the top. Put yourself aside, and help others get ahead. (MSG)
Yakobus 4:6 (FAYH), "Tetapi di samping itu Allah memberi kita kekuatan untuk melawan segala keinginan jahat. Sebagaimana dikatakan dalam Kitab Suci, Allah memberi kekuatan kepada orang yang rendah hati, tetapi Ia menentang yang sombong dan angkuh."
But He gives us more and more grace (power of the Holy Spirit, to meet this evil tendency and all others fully). That is why He says, God sets Himself against the proud and haughty, but gives grace [continually] to the lowly (those who are humble enough to receive it). (AMP)
And what he gives in love is far better than anything else you'll find. It's common knowledge that "God goes against the willful proud; God gives grace to the willing humble." (MSG)
~ YS