
Beberapa waktu yang lalu, saya teringat Waiting for Godot, sebuah drama karya Samuel Beckett. Ceritanya sederhana. Dua orang bernama Vladimir dan Estragon menghabiskan hari-hari mereka menunggu seorang bernama Godot. Mereka berbicara, berdebat, mengenang masa lalu, mengisi waktu, lalu menunggu lagi.
Hari demi hari lewat, tetapi Godot tak pernah datang. Pada akhirnya, drama itu usai dengan jawaban yang mengambang. Yang tersisa hanyalah pertanyaan besar: bagaimana seandainya menghabiskan seluruh hidup untuk menunggu.
Saat merenungkannya, saya teringat pada Matius 25. Yesus juga berbicara tentang penantian. Namun, penantian yang Yesus ajarkan sangat berbeda. Dalam pasal itu, Yesus menceritakan salah satu dari tiga perumpamaan, yaitu gadis-gadis yang menantikan mempelai. Pesan utamanya, bagaimana kita hidup selama menunggu kedatangan Sang Raja.
Gadis-gadis yang bijaksana tidak hanya menunggu. Mereka mempersiapkan minyak. Berjaga-jaga senantiasa.
Bagaimana dengan kita? Sering kali mungkin kita terjebak dalam penantian yang pasif. Hanya menghitung jari. Kita menunggu Tuhan membuka pintu, menunggu pelayanan berkembang, menunggu keadaan berubah, menunggu kesempatan yang lebih baik. Tanpa sadar, tahun demi tahun berlalu, sementara kita tetap berada di tempat yang sama. Kita begitu sibuk menunggu masa depan, sehingga lupa mengerjakan apa yang sesungguhnya Tuhan percayakan, serta kehendaki untuk kita kerjakan hari ini.
Matius 25:13 (TB2), "Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."
Dalam drama Waiting for Godot, penantian berakhir dengan ketidakpastian. Dalam iman Kristen, kita menunggu dengan janji yang pasti. Kristus akan datang kembali. Namun selama menunggu, Tuhan tidak memanggil kita untuk duduk diam. Ia ingin kita tetap berjaga-jaga, tetap melayani, tetap bertumbuh, dan tetap mengasihi ketika Sang Raja belum datang. Tetap mengembangkan talenta, dan setia melakukan pekerjaan yang sudah dipercayakan oleh-Nya.
Apa yang sedang Tuhan percayakan kepada Saudara dan saya hari ini?
Hiduplah sedemikian rupa sehingga ketika Ia datang kembali, Ia mendapati kita setia mengerjakan apa yang menjadi kehendak-Nya.
Wahyu 22:20 (TSI), "Ingatlah! Yesus, yang selalu layak dipercaya, berkata, 'Aku datang segera.' Amin! Datanglah Tuhan Yesus!"
He who testifies to all these things says it again: "I'm on my way! I'll be there soon!" Yes! Come, Master Jesus! (MSG)
~ JP