
Apa yang tak diundang tapi dapat datang dengan sendirinya?
Yaitu adalah masalah.
Musa sendiri, salah satu dari penulis dalam mazmur, pernah mengatakan bahwa "kebanggaan" dalam hidup seseorang maupun kita semua pada umumnya sebagai manusia, adalah adanya masalah demi masalah. Dengan kata lain, sepanjang hidup kita sampai akhir napas kita, pasti akan ada apa yang namanya masalah.
Karena itu, tidak perlu takut, melainkan kita dapat menghadapinya bersama-sama dengan Tuhan dan pertolongan-Nya, hikmat-Nya, tuntunan-Nya.
Mazmur 90:10, "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap."
Kami diberi hidup selama tujuh puluh tahun. Beberapa dari kami mungkin hidup sampai delapan puluh tahun. Tetapi tahun-tahun yang terbaik sekalipun sering hampa dan penuh penderitaan. Dengan cepat tahun-tahun itu berlalu dan kami pun lenyaplah. (FAYH)
The days of our years are threescore years and ten (seventy years)--or even, if by reason of strength, fourscore years (eighty years); yet is their pride [in additional years] only labor and sorrow, for it is soon gone, and we fly away. (AMP)
We live for seventy years or so (with luck we might make it to eighty), And what do we have to show for it? Trouble. Toil and trouble and a marker in the graveyard. (MSG)
Hampir senada dengan kitab Pengkhotbah, salah satu hal yang bisa kita lakukan juga terhadap apa yang mungkin sedang kita alami maupun di tengah-tengah permasalahan serta berbagai hal yang ada dalam kehidupan ini adalah mensyukuri, menikmati anugerah Tuhan. Sebab jika tidak demikian, mungkin kita malah menambahkan satu masalah lagi terhadap masalah demi masalah yang sudah ada. Makan, minum, dan bekerja --bahkan sebenarnya semua kegiatan dalam hidup ini-- dapat memuaskan hanya apabila seseorang memiliki hubungan yang pribadi dengan Allah. Sebab hanya Dialah yang memungkinkan kita menemui kepuasan yang sejati di hidup ini.
Penghotbah 2:23-24 (TSI), "Setiap hari kita merasa sedih dan tersiksa karena bekerja begitu berat, dan di malam hari tidak bisa tidur nyenyak karena gelisah. Semua itu juga sia-sia! Jadi, aku menyimpulkan bahwa jalan terbaik bagi kita adalah menikmati makanan, minuman, dan pekerjaan serta hasilnya. Aku pun menyadari bahwa hal-hal itu memang diberikan Allah untuk kita nikmati."
Maka terpikirlah olehku bahwa tidak ada yang lebih baik bagi orang daripada menikmati makanan serta minumannya dan pekerjaannya. Kemudian aku sadar bahwa kesenangan ini pun berasal dari tangan Allah. Siapakah yang dapat makan dan merasakan kenikmatan kalau terpisah dari Dia? Karena Allah memberikan kebijaksanaan, pengetahuan, dan sukacita kepada orang yang menyukakan hati-Nya; tetapi kepada orang yang berdosa Allah memberikan tugas untuk mengumpulkan dan menimbun kekayaan yang kemudian akan diberikan kepada orang yang menyukakan hati-Nya. Jadi, di sini pun kita dapat melihat contoh kesia-siaan, sama seperti mengejar-ngejar angin belaka. (FAYH)
Pain and grief from dawn to dusk. Never a decent night's rest. Nothing but smoke. The best you can do with your life is have a good time and get by the best you can. The way I see it, that's it--divine fate. (MSG)
Besok kita juga akan membahas dan mengetahui apa solusi untuk mengatasi dan menghadapi masalah seperti ini.
~ Yoseph Anwar