
Apa yang tertulis di dalam Alkitab, firman Tuhan, bukan ditulis tanpa tujuan. Pasti ada tujuannya, pasti ada maknanya. Seperti halnya ketika dituliskan pada ayat pesan firman Tuhan berikut ini.
Mazmur 63:1, "Mazmur Daud, ketika ia ada di padang gurun Yehuda. Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair."
Di padang gurun Yehuda.
Entahkah mungkin ia sedang berlari dari kejaran raja Saul yang ingin ia terbunuh, ataupun mungkin menghindar dari pemberontakan anaknya sendiri Absalom, Daud terpaksa bersembunyi di padang gurun.
Bayangkan saja, sebuah padang gurun ialah wilayah yang sangat ekstrem saat siang maupun malam, belum lagi ancaman hewan-hewan, ini ditambah lagi oleh kejaran maupun serangan "musuh". Namun, seperti yang sering kali Daud lakukan, ia mengharap hanya pada perlindungan Tuhan.
Mazmur Daud ketika ia bersembunyi di Padang Gurun Yudea. YA Allah, ya Allahku! Aku mencari Engkau! Betapa hausnya aku akan Dikau di tanah yang kering dan tandus ini, yang tidak berair sama sekali. Betapa ingin aku menemukan Engkau! (FAYH)
A psalm by David when he was in the wilderness of Judah. O God, you are my God. At dawn I search for you. My soul thirsts for you. My body longs for you in a dry, parched land where there is no water. (GWV)
Di "padang gurun kehidupan" ini, di mana banyak tantangan serta permasalahan, kepada siapakah kita dapat berharap? Apakah kepada orang lain, apakah sekadar pada materi, ataukah diri sendiri? Satu-satunya pengharapan kita yang pasti ialah Tuhan.
Full Life Notes menuliskan: Orang yang mengaku mengenal Allah perlu meneliti dirinya dengan bertanya sebagai berikut: Apakah saya sungguh-sungguh sangat merindukan Allah dan kehadiran-Nya di dalam hidup saya? Atau apakah saya mengarungi hidup ini sebagian besar dengan usaha-usaha sekuler dan hiburan duniawi, sedangkan doa, membaca Alkitab, dan dahaga yang sangat bagi Allah dan kebenaran-Nya hampir tidak ada tempat atau tidak giat dalam hidup saya?
Pdt. Robertus Purwadi juga pernah mengingatkan tentang tujuan "padang gurun" dalam kehidupan kita adalah untuk kita belajar taat dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan, sebagai tempat dibersihkan dari ketergantungan pada cara hidup yang duniawi, serta menjadi tempat pembentukan karakter kita agar semakin seperti Tuhan Yesus.
Bagaimana dengan kita hari-hari ini, apa yang menjadi padang gurun kehidupan kita? Tetaplah berharap pada-Nya, satu-satunya Penolong yang setia.
Ulangan 8:2 (VMD), "Dan ingatlah seluruh perjalanan di bawah pimpinan TUHAN Allahmu selama 40 tahun di padang gurun. Dia telah mengujimu. Ia ingin membuat kamu rendah hati. Ia mau tahu yang ada di dalam hatimu. Ia mau tahu apakah kamu menaati perintah-perintah-Nya."
Ingatkah kamu bagaimana TUHAN membawa kamu melalui padang gurun selama empat puluh tahun itu? Ia merendahkan hatimu, dan menguji kamu untuk mengetahui sikap hatimu, apakah kamu akan benar-benar menaati Dia atau tidak. (FAYH)
Remember every road that GOD led you on for those forty years in the wilderness, pushing you to your limits, testing you so that he would know what you were made of, whether you would keep his commandments or not. (MSG)
"Blessed Lord, let our desire towards thee increase every hour; let our love be always upon thee; let all our enjoyment be in thee, and all our satisfaction from thee. Be thou all in all to us while we remain in the present wilderness state, and bring us home to the everlasting enjoyment of thee for ever." ~ Matthew Henry
~ FG