
Pagi ini, Pak Gino, tukang kerupuk legendaris di wilayah saya tinggal, mampir.
Wajahnya nampak menua, mungkin hampir 70 tahun.
Gerobaknya sederhana, jalannya pelan. Tapi ada satu hal yang sulit dilewatkan, ia tetap tersenyum, tetap menyapa, tetap menjajakan kerupuk seperti yang sudah ia lakukan puluhan tahun.
Yang paling menyentuh, tempatnya duduk menggowesnya sudah miring—terbentuk dari tubuh yang sama, posisi yang sama, pekerjaan yang sama, selama bertahun-tahun. Seolah hidupnya meninggalkan jejak fisik dari kesetiaan yang panjang.
Di dunia yang tampak selalu makin canggih hari-hari ini, kita diajar untuk selalu naik level. Harus berkembang, harus berubah, harus lebih lagi. Tapi melihat Pak Gino itu, muncul satu pertanyaan sederhana, bahwa apakah hidup harus selalu terus-menerus naik dan tidak pernah melakukan kesalahan, ataukah justru sifat setia yang Tuhan cari?
Kesetiaan mungkin sering kali tidak spektakuler. Tidak viral. Tidak dipuji. Tapi justru di situlah nilai indahnya. Tuhan tidak hanya melihat hasil besar; Ia melihat hati yang mau tetap setia, bahkan ketika tidak ada yang memperhatikan.
Pak Gino mungkin tidak pernah berdiri di panggung. Tidak dikenal banyak orang. Tapi selama puluhan tahun ia hadir, melayani, menjadi bagian dari kehidupan banyak orang—tanpa suara, tanpa sorotan.
Hari ini, kita diingatkan bahwa hidup tidak selalu tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi seberapa setia kita berjalan, terutama bersama Tuhan. Dunia mengejar perubahan cepat, tetapi Tuhan membentuk karakter lewat ketekunan yang panjang. Dunia mungkin mencari yang luar biasa, Tuhan melihat yang setia.
Amsal 20:6, "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?"
Lots of people claim to be loyal and loving, but where on earth can you find one? (MSG)
"A long obedience in the same direction." (Eugene H. Peterson)
~ JP