
Sebuah video beredar tentang seorang supir bus yang dibentak penumpang karena melewatkan tempat turunnya.
Suasana memanas.
Kata-kata tajam keluar.
Berakhir dengan sang supir buss menangis meraung. Kita yang menonton mungkin langsung punya opini: siapa yang salah, siapa yang benar. Tetapi mungkin ada satu hal yang sering kita lupa, bahwa kita sering kali hanya melihat satu momen. Tanpa melihat seluruh perjalanan hidup seseorang.
Supir tadi mungkin sudah bekerja sejak pagi. Mungkin lelah. Mungkin kurang tidur. Mungkin sedang memikirkan keluarga, tagihan, atau masalah yang tidak kita tahu. Kadang hanya kita sendiri yang tahu apa yang telah kita alami sendiri, dan orang lain tidaklah tahu. Karena kita tidak pernah benar-benar tahu beban apa yang sedang dipikul orang lain.
Hingga di satu titik, sang supir mencapai breaking point atau tak mampu menahan emosi maupun perasaannya lagi.
Masalahnya, dunia ini cepat sekali bereaksi, namun lambat untuk memahami. Demikian juga mungkin kita cepat menghakimi, tetapi lambat untuk berempati.
Alkitab sebenarnya sudah mengingatkan kita tentang hal ini: "Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu" (Efesus 4:2, AYT).
Galatia 6:2, TB2), "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus."
Menanggung beban bukan berarti kita harus tahu semua cerita seseorang. Setidaknya, kita memilih untuk tidak menambahkan beban mereka. Yesus sendiri melihat orang bukan dari kesalahan sesaat, tetapi dari hati mereka. Ia tidak datang untuk menghakimi, tetapi untuk memulihkan.
Sering kali, satu kata kasar bisa melukai lebih dalam daripada yang kita kira. "Paku yang kita tancapkan, bekasnya akan susah menghilang." Sebaliknya, satu respons yang lembut bisa menghentikan konflik sebelum menjadi lebih besar. Dan orang lain sering kali mengingat bukan sekadar apa yang kita berikan kepada mereka, melainkan juga lebih pada seperti apa kita membuat mereka merasa diperlakukan.
Karena itu, bagaimana kita memperlakukan orang lain hari-hari ini?
Amsal 15:1, (TB2), "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah."
~ JP