
Apakah kita senang mencari dan menerima pujian dari orang lain? Jujur, saya juga terkadang senang menerimanya. Tidak salah menghargai sebuah pujian yang tulus dari orang lain, bukan? Kita cukup mengucap terima kasih untuk menghargainya, daripada berpura-pura rendah hati menolaknya, padahal di dalam hati kita berbunga-bunga, dan lupa untuk mengembalikan segala pujian serta hormat hanya bagi nama Tuhan juga.
Lagipula, saya masih ingat kata-kata seorang teman, "Bukankah nyamuk mati karena tepukan tangan manusia?" Dengan nada lain, jangan sampai kita gila pujian dari orang-orang lain, namun tidak menyadari pertolongan dan penyertaan Tuhan, apalagi kita sebagai anak-anak-Nya.
Jadilah seperti seorang pemain biola yang tampil di hadapan hadirin yang bertepuk tangan karena penampilannya yang luar biasa, namun ia merespons dengan tenang dan matanya hanya tertuju pada seseorang. Seorang penonton di balkon. Pelatihnya.
Hanya sampai sang pelatih mengangguk seraya menandakan bangga akan permainannya di atas panggunglah, maka pemain biola itu mulai tersenyum, mengetahui bahwa pelatihnya ikut berbahagia melihatnya. Sebab, hanya mereka berdualah yang mungkin paling mengetahui jam-jam panjang latihan mereka sampai mencapai titik keahlian tertentu. Baginya, tepuk tangan dari sang pelatih, jauh lebih berharga daripada sekadar tepukan tangan dari banyak orang yang tidak mengenalnya.
Bukankah Allah mengenal kita, dan kita semakin mengenal Dia? Karena itu, carilah kehormatan yang dari-Nya saja, menyenangkan hati-Nya, dan bukan sekadar dari manusia.
Yohanes 12:43 (BSD), "Mereka lebih suka manusia menghargai mereka daripada Allah menghargai mereka."
For they loved the approval and the praise and the glory that come from men [instead of and] more than the glory that comes from God. [They valued their credit with men more than their credit with God.] (AMP)
When push came to shove they cared more for human approval than for God's glory. (MSG)
Seperti juga halnya Paulus, apa pun yang kita kerjakan, bahkan dalam banyak hal serta segala sesuatunya, carilah perkenanan Allah, menyenangkan hati Tuhan, membuat Allah tersenyum terhadap kita.
Galatia 1:10 (BIS), "Apakah dengan itu nampaknya saya seolah-olah mengharap diakui oleh manusia? Sama sekali tidak! Saya hanya mengharapkan pengakuan dari Allah. Apakah saya sedang berusaha mengambil hati manusia supaya disenangi orang? Kalau saya masih berbuat begitu, saya bukanlah hamba Kristus."
Saudara dapat melihat, bahwa saya tidak berusaha menyenangkan hati Saudara dengan kata-kata manis atau sanjungan. Saya berusaha menyenangkan Allah. Seandainya saya masih berusaha menyenangkan manusia, saya tidak dapat menjadi hamba Kristus. (FAYH)
Do you think I speak this strongly in order to manipulate crowds? Or curry favor with God? Or get popular applause? If my goal was popularity, I wouldn't bother being Christ's slave. (MSG)
1 Tesalonika 2:14 (BIS), "Tidak! Kami tidak berbicara untuk menyenangkan hati orang, melainkan untuk menyenangkan hati Allah, yang menguji hati kami. Sebab kami dianggap layak oleh Allah untuk menyebarkan Kabar Baik itu."
Karena kami berbicara sebagai utusan-utusan Allah, yang telah diberi-Nya kepercayaan untuk memberitakan kebenaran; sedikit pun berita itu tidak kami ubah. Tujuan kami bukanlah menyenangkan mereka yang mendengarnya, karena kami hanya melayani Allah, yang menguji pikiran hati kami yang paling dalam. (FAYH)
Be assured that when we speak to you we're not after crowd approval--only God approval. Since we've been put through that battery of tests, you're guaranteed that both we and the Message are free of error, mixed motives, or hidden agendas. (MSG)
~ FG