
Kita mungkin pernah membahas, ataupun mendengar tentang ini, namun tidak mengapa, karena pengulangan merupakan teman dari pengalaman.
Dalam mitologi Yunani, ada kisah terkenal: Raja Midas. Suatu hari, ia mendapat kesempatan meminta satu hal kepada para dewa. Tanpa berpikir panjang ia berkata, "Aku mau semua yang kusentuh berubah menjadi emas." Permintaannya langsung terkabul.
Awalnya, ia sangat gembira. Pohon berubah menjadi emas. Kursi berubah menjadi emas. Bahkan seluruh istananya tampak berkilau. Ia merasa telah memperoleh impian terbesar dalam hidupnya.
Namun, kebahagiaan seperti itu tidak berlangsung lama. Saat makan malam tiba, roti yang hendak dimakannya berubah jadi emas. Air yang hendak diminumnya ikut berubah menjadi emas. Puncaknya, ketika putri kesayangannya berlari memeluknya, tubuh anak itu pun berubah menjadi patung emas.
Saat itulah, raja Midas menyadari kenyataan yang terlambat: tidak semua yang kita inginkan akan membawa kebaikan.
Mungkin kita pernah mengalami seperti itu. Kita berdoa, "Tuhan, berikan ini dan itu." Ketika Tuhan menjawab, "Belum," atau bahkan, "Tidak," kita kecewa dan bertanya-tanya mengapa doa kita seolah terabaikan. Padahal, mungkin saat itulah Tuhan sedang bekerja maupun melindungi kita dari sesuatu yang belum sanggup kita tanggung ataupun hadapi. Bukan karena Ia ingin mengambil sukacita kita, tetapi karena Ia mengetahui apa yang benar-benar membawa kehidupan.
Mazmur bahkan mencatat kalimat yang cukup mengejutkan: "Diberikan-Nya kepada mereka apa yang mereka minta, tetapi didatangkan-Nya penyakit lemah lesu ke dalam diri mereka" (Mazmur 106:15, TB2).
Ini mengingatkan kita bahwa terkadang bentuk pendisiplinan dari Tuhan bukan ketika doa kita ditolak, melainkan ketika Ia membiarkan kita memiliki apa yang begitu keras kita inginkan, meskipun hal itu akhirnya melukai kita. Sebaliknya, penolakan dari-Nya justru bisa jadi bentuk perlindungan-Nya yang terbesar.
Syukurlah, Tuhan adalah Bapa, bukan "mesin penjawab doa". Ia tidak hanya mendengar apa yang kita minta, ataupun setiap doa, tetapi juga melihat lebih jauh terhadap apa yang akan terjadi apabila doa itu dikabulkan. Ia mengetahui masa depan yang tidak dapat kita lihat.
Matius 6:10 (FAYH), "Kami mohon kiranya kehendak-Mu terlaksana di bumi ini sama seperti di surga."
Set the world right; Do what's best--as above, so below. (MSG)
Mungkin doa yang paling dewasa bukanlah, "Tuhan, berikan apa yang aku inginkan sekarang." Melainkan, "Tuhan, jika apa yang kuinginkan akan menjauhkan aku dari-Mu, jangan berikan itu kepadaku. Berikanlah apa yang paling memuliakan nama-Mu dan paling baik bagi hidupku sesuai cara dan seturut waktu-Mu."
~ JP