
Setiap pagi adalah anugerah baru dari Tuhan, kesempatan untuk bertumbuh dan diperbaiki. Namun, sering kali kita lebih memilih jalan kita sendiri, menganggap teguran dan nasihat sebagai gangguan bagi kenyamanan dan rasa gengsi kita.
Firman Tuhan hari ini memberikan peringatan yang serius tentang bahaya mengeraskan hati.
Amsal 29:1 (FAYH), "ORANG yang sering diberi tegoran, tetapi tidak mau menerimanya akan dijatuhkan dengan mendadak dan tidak akan pernah pulih lagi."
Setelah ditegur berulang kali tetapi engkau tetap keras kepala, akan tiba saatnya engkau menyadari bahwa hidupmu sudah rusak parah dan tak dapat dipulihkan. (TSI)
For people who hate discipline and only get more stubborn, There'll come a day when life tumbles in and they break, but by then it'll be too late to help them. (MSG)
Kehancuran karena terus-menerus menolak teguran, terutama yang datang dari Tuhan, itu tidak perlahan, melainkan dapat saja datang seperti tembok yang ambruk secara tiba-tiba ketika fondasi kesombongan sudah tidak lagi mampu menahan beban kesalahan. Saat semuanya sudah ambruk, barulah mata batin kita terbuka, tetapi sudah terlambat untuk memperbaiki. Karena itu, janganlah kita membenci didikan, teguran, serta suara hati nurani yang murni, dan bersikukuh dalam kebenaran diri sendiri.
Teguran bukanlah musuh, tetapi adalah alat kasih Tuhan. Ketika Roh Kudus menegur kita melalui firman-Nya, atau ketika Allah mendidik kita sebagai anak yang dikasihi-Nya, itu adalah bukti bahwa kita masih berada dalam jangkauan kemurahan-Nya. Menolak teguran itu sama dengan menolak tangan yang sedang berusaha menarik kita dari jurang. Risiko terbesar adalah ketika hati kita menjadi semakin keras, dan semakin jauh dari kemurahan Allah, memilih untuk terus-menerus berkubang dalam dosa, sehingga menuai akibat yang pahit dan tak terpulihkan.
Bagaimana dengan kita saat menerima nasihat serta teguran, apakah segera membela diri ataukah mau untuk merenungkannya?
Hari ini mungkin Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk mendengar dan merendahkan hati untuk menerima teguran maupun nasihat, baik yang datang dari firman-Nya, pemimpin rohani, keluarga, dan orang lain. Jangan tunggu sampai segalanya rusak parah dan tak dapat dipulihkan lagi. Ia sanggup bekerja melalui setiap teguran, agar kita dihancurkan dengan mendadak, melainkan senantiasa dibangun di dalam kasih-Nya.
~ FG