
Baru-baru ini, Tim Tebow mengeluarkan sebuah buku berjudul If the Tree Could Speak, mengingatkan saya juga pada cerita tentang ketiga pohon yang ditebang dan masing-masing dijadikan ke dalam bagian ataupun menjadi benda lain.
Kalau beberapa hari yang lalu, kita melihat tentang tiga jenis benda, yaitu kentang, telur, dan kopi yang berubah menjadi berbeda-beda ketika direbus, hari ini kita membaca tentang ketiga pohon yang sama namun mengalami hasil akhir yang beda tapi dengan tujuang yang mungkin bisa dibilang sama.
Apa saja itu?
Pohon yang pertama ditebang untuk digunakan menjadi bahan-bahan untuk pembuatan sebuah kapal, dan andai pohon itu dapat berkata—seperti judul buku Tim Tebow tadi—mungkin akan senang karena dapat mengantarkan orang-orang ke tempat-tempat di atas sungai, danau, atau bahkan mungkin juga pantai atau laut.
Pohon kedua sedemikian rupa juga ditebang dan digunakan menjadi bagian dari sebuah kandang, dan andaikata ia dapat berbicara, mungkin akan tetap mengucap syukur karena masih dapat berguna dan berfungsi untuk menjaga hewan-hewan ternak.
Pohon yang ketiga sayangnya, setelah beberapa lamanya ditebang, dibiarkan begitu saja tergeletak di antara tumpukan kayu-kayu, dan andai dapat bersuara, mungkin akan bertanya-tanya untuk apa ditebang dan mengapa mengalaminya.
Seiring waktu berjalan, kapal atau perahu yang tadi ternyata dipakai juga salah satunya dalam kesempatan untuk Tuhan Yesus berkhotbah di atas kapal kepada murid-muridnya. Pohon kedua yang menjadi bagian kandang tadi rupanya pernah juga menjadi saksi kelahiran Tuhan Yesus di kandang domba. Sedangkan, pohon ketiga yang tampaknya seolah tak berguna, ternyata dipakai sebagai kayu salib, ditopang, dipanggul oleh Tuhan Yesus di pungungnya hingga ke bukit Golgota untuk mati, menebus dosa seluruh umat manusia.
Andai pohon yang ketiga itu dapat berbicara, If the Tree Could Speak, mungkin akhirnya menyadari fungsi atau tujuannya yang utama, mungkin akan mengingatkan manusia betapa Tuhan Yesus sangat mengasihi mereka, dan apa pun yang terjadi, masih ada hal baik yang patut disyukuri, serta kita tidak pernah tahu apa yang masih bisa terjadi di depan nanti.
Yakobus 4:14-15 (FAYH), "Bagaimana Saudara dapat mengetahui apa yang akan terjadi besok? Karena masa hidup kita tidaklah tentu, sama seperti kabut yang pada satu saat kelihatan, tetapi sesaat kemudian sudah hilang. Yang harus kita katakan ialah, 'Jika Tuhan menghendaki, kita akan hidup dan melakukan ini atau itu.'"
You don't know the first thing about tomorrow. You're nothing but a wisp of fog, catching a brief bit of sun before disappearing. Instead, make it a habit to say, "If the Master wills it and we're still alive, we'll do this or that." (MSG)
~ FG