
Seorang Instagrammer, Andrew Putra, menceritakan pengalamannya ketika menjadi pelajar dan mahasiswa di Singapura. Yang membuat saya terdiam bukan kisah tentang nilai atau universitas-universitas ternama yang menjadi tujuan banyak siswanya. Yang paling membekas justru ketika ia berkata bahwa rasa lelah terbesar datang dari lingkungannya.
Hampir semua orang belajar dengan serius, mengikuti berbagai kegiatan, mengejar prestasi, dan menganggap semua itu sebagai hal yang biasa. Ketika semua orang berlari, berhenti sebentar saja terasa seperti sedang tertinggal jauh.
Sepanjang mendengarnya saya berpikir, rupanya lingkungan memang memiliki cara membentuk seseorang. Tanpa sadar kita mengikuti iramanya. Kalau berada di tengah orang-orang yang malas, kemalasan perlahan terasa normal. Sebaliknya, ketika dikelilingi oleh orang-orang yang bertumbuh, kita pun terdorong untuk terus berkembang.
Mungkin, itulah sebabnya Alkitab begitu sering berbicara tentang hidup bersama komunitas orang percaya. Bukan sekadar supaya kita mempunyai teman ke gereja, melainkan karena iman juga cenderung dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan. Besi menajamkan besi. Orang yang berjalan bersama orang bijaksana menjadi bijaksana. Pertumbuhan rohani jarang terjadi sendirian.
"Marilah kita berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita, dengan mata yang tertuju kepada Yesus." (Ibrani 12:1–2, TB2)
Namun ada satu perbedaan yang sangat penting. Dunia mungkin membentuk serta mempengaruhi dan mendorong kita agar mampu mengalahkan orang lain. Sedangkan, Kristus membentuk kita agar semakin menyerupai Dia. Sekilas, kedua proses itu tampak sama-sama melelahkan. Sama-sama membutuhkan disiplin. Sama-sama memerlukan latihan yang terus-menerus. Tetapi arah akhirnya berbeda.
Seorang pelari maraton tidak berlatih hanya dengan berlari. Ia juga belajar beristirahat, mengatur napas, menjaga pola makan, dan mendengarkan pelatihnya. Tanpa semua itu, tubuhnya justru akan runtuh sebelum mencapai garis akhir.
Demikian pula kehidupan rohani. Membaca firman, doa, penyembahan, dan komunitas bukan sekadar rentetan daftar kegiatan rohani yang harus diselesaikan setiap minggunya. Semua itu adalah—serta dapat menjadi salah satu—cara Tuhan memelihara jiwa kita agar tetap kuat menempuh perjalanan yang panjang di dalam kehidupan ini.
Karena itu, Yesus tidak mengundang murid-murid-Nya untuk sekadar bekerja lebih keras. Ia berkata, "Tinggallah di dalam Aku" (Yohanes 15:4, TB2). Kalimat itu sederhana, tetapi sangat dalam. Sebuah ranting tidak menghasilkan buah karena berusaha lebih keras daripada ranting lain. Ia berbuah karena tetap melekat pada pokok anggur. Kehidupan mengalir dari hubungan itu.
Inilah yang sering terlupakan ketika kita mulai lelah. Kita mengira jawabannya adalah menambah tenaga. Padahal, sering kali yang kita perlukan hanyalah kembali melekat kepada Pokok, yaitu Kristus sendiri. Sebab, kelelahan terbesar bukan terjadi ketika tubuh bekerja terlalu banyak, melainkan ketika jiwa mencoba berjalan tanpa sumber kehidupannya yang sejati.
Tuhan mungkin tidak menjanjikan perjalanan yang pendek. Ia juga tidak menjanjikan bahwa setiap hari akan terasa ringan. Yang Ia janjikan, adalah penyertaan-Nya, sampai garis akhir.
Setiap halaman firman Tuhan yang kita baca, setiap doa yang kita naikkan, setiap pelayanan kecil yang mungkin tidak pernah diperhatikan orang lain, semuanya sedang dipakai oleh Roh Kudus untuk mempersiapkan serta membentuk karakter yang teguh di dalam diri kita.
Suatu hari kelak, ketika perjalanan ini usai, mungkin kita baru menyadari bahwa tujuan Tuhan bukan sekadar membawa kita sampai di garis akhir. Selama perjalanan itu, Ia sedang membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang berbeda dari ketika kita memulai perlombaan. Dan mungkin, itulah kemenangan yang paling besar. Tuhan tidak sedang melatih kita menjadi pelari tercepat. Ia sedang membentuk kita menjadi murid yang setia sampai garis akhir.
~ JP