
Beberapa hari terakhir ini, jagat maya dihebohkan oleh sebuah film animasi berjudul Niu Lai. Yang menarik, banyak orang justru datang menontonnya karena penasaran setelah membaca komentar seperti, "It's so ugly that it's good." Ada yang menganggap animasinya kaku, desain karakternya tidak menarik, bahkan menyebutnya jauh dari standar studio-studio besar. Namun setelah menonton, banyak yang keluar dari bioskop dengan kesan yang sama: "Ternyata film ini punya hati."
Kalimat itu membuat saya berhenti sejenak. Punya hati.
Ternyata sebuah karya bisa memiliki "hati". Bukan karena gambarnya paling indah, bukan karena teknologinya paling canggih, melainkan karena ada ketulusan, pengorbanan, dan kasih yang dituangkan ke dalamnya. Film itu dikerjakan selama bertahun-tahun oleh seorang anak bersama ibunya. Mereka tidak memiliki sumber daya sebesar studio-studio raksasa. Mereka hanya memiliki satu hal yang sering diremehkan dunia: ketekunan untuk terus berkarya. Sedikit demi sedikit, hari demi hari, selama bertahun-tahun.
Bukankah Tuhan sering bekerja dengan cara yang sama?
"Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16:7b, TB2)
Ketika Samuel mencari raja baru bagi Israel, semua orang terpukau melihat Eliab. Penampilannya meyakinkan. Sosoknya tampak seperti seorang pemimpin. Namun Tuhan berkata, "Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."
Tuhan tidak sedang mencari penampilan yang paling mengesankan. Ia mencari hati yang mau dipakai-Nya. Itulah sebabnya, Daud dipilih ketika masih menggembalakan domba. Itulah sebabnya, Yesus memilih nelayan, pemungut cukai, dan orang-orang sederhana untuk mengubah dunia. Bahkan salib, lambang kehinaan pada zaman itu, justru dipakai Allah menjadi lambang keselamatan bagi seluruh umat manusia.
Dunia hampir selalu terpikat pada hasil yang instan nan mengagumkan. Tuhan justru melihat proses yang tidak dilihat oleh siapa pun. Ia melihat doa-doa yang tidak terdengar. Kesetiaan yang tidak mendapat tepuk tangan. Pelayanan kecil yang tidak pernah masuk sorotan. Pekerjaan yang dilakukan dengan sepenuh hati ketika tidak ada seorang pun yang memperhatikan.
Kolose 3:23 mengingatkan,
"Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."
Perhatikan, Paulus tidak berkata, "Kerjakanlah pekerjaan yang besar." Ia berkata, "Kerjakanlah dengan segenap hati." Karena bagi Tuhan, ukuran sebuah pekerjaan bukan terutama seberapa besar dampaknya menurut manusia, tetapi seberapa besar kasih dan kesetiaan yang dicurahkan di dalamnya.
Mungkin hari ini kita merasa apa yang kita lakukan terlalu kecil. Mengajar beberapa anak. Menata kursi sebelum ibadah. Memasak untuk keluarga. Menulis renungan yang dibaca segelintir orang. Membuat karya yang belum banyak dihargai.
Jangan berkecil hati. Dunia mungkin melihat hasil akhirnya. Tetapi Tuhan sudah bersukacita sejak hari pertama ketika kita memilih untuk setia. Suatu hari nanti, mungkin orang akan berkata, "Ternyata pekerjaan itu luar biasa." Namun Tuhan sudah lebih dahulu berkata, "Aku melihat hatimu, Nak." Dan mungkin, di mata Tuhan, itulah pujian yang paling berharga.
Sekali lagi, dunia mungkin sering mengagumi karya yang terlihat sempurna. Tetapi, Tuhan senantiasa mencari hati yang mau untuk tetap setia. Seperti Dia.
~ JP