Matius 20:26-28
Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.
Umumnya, setiap orang ingin menjadi besar. Dan menjadi besar sering kali diidentifikasi dengan pencapaian lahiriah seperti punya perusahaan yang besar, bisnis yang sukses, rumah yang megah, penghasilan melimpah, dan pengaruh atau popularitas.
Tidak sedikit orang juga yang memilih jalan pintas dan menghalalkan segala cara. Mereka melakukan penyuapan, bertindak curang, serta saling menjatuhkan demi menduduki posisi.
Namun, cara pandang Allah mengenai kebesaran sangat bertolak belakang dengan standar manusia. Kebesaran sejati di mata Tuhan tidak diukur dari seberapa banyak orang yang dapat diperintah, melainkan dari kesediaan hati seseorang untuk melayani orang lain. Yesus Kristus sendiri telah memberikan teladan melalui hidup-Nya, di mana Dia datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang.
Dalam realitas sekuler, sebenarnya telah mengadopsi pentingnya nilai pelayanan melalui berbagai istilah seperti customer care, service center, dan after sales service. Pelayanan diakui sebagai kunci utama menuju kesuksesan sebuah bisnis. Meski demikian, ada perbedaan teologis antara pelayanan di dunia ini, dan pelayanan menurut firman Tuhan.
Di dalam dunia bisnis, pelanggan diposisikan sebagai raja. Mereka akan dilayani dengan standar terbaik selama mereka masih dapat memberikan misalnya keuntungan finansial atau manfaat timbal balik bagi perusahaan. Sebaliknya, jika pelanggan tidak lagi mendatangkan keuntungan, maka pelayanan tersebut akan dihentikan.
Sementara itu, pelayanan menurut firman Tuhan mengajar kita untuk merendahkan diri di bawah orang yang kita layani, tanpa melihat apakah orang tersebut memberikan keuntungan, manfaat, atau bahkan tidak sama sekali.
Pelayanan Kristen sejati selalu menuntut pengorbanan yang nyata, baik secara waktu, tenaga, pikiran, perasaan, dan materi. Karena itu, langkah awal untuk menjadi besar adalah menyadari dan mengakui identitas kita di hadapan Tuhan, yaitu sebagai seorang hamba atau pelayan.
Ketaatan Seorang Hamba dari Kisah Perkawinan di Kana
Melalui peristiwa mujizat di perkawinan Kana (Yohanes 2:1-11), kita belajar mengenai esensi karakter seorang pelayan. Ketika pesta pernikahan mengalami krisis akibat kekurangan anggur, ibu Yesus meminta para pelayan untuk melakukan apa pun yang diperintahkan oleh Yesus.
Di sana, ada enam tempayan batu yang digunakan untuk pembasuhan secara adat Yahudi. Yesus memerintahkan para pelayan untuk mengisi tempayan itu dengan air, mencedoknya, dan membawanya ke pemimpin pesta. Para pelayan ini mungkin pada awalnya tidak mengenal Yesus, dan belum pernah melihat Dia melakukan mujizat, namun mereka memilih untuk taat. Ketaatan merupakan "pakaian" utama yang wajib dikenakan oleh setiap hamba Tuhan.
Secara definisi, ketaatan adalah melakukan apa yang diperbolehkan oleh Allah, dan menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya. Hambatan terbesar untuk taat biasanya bukan karena perintah Allah itu rumit, melainkan karena ego dan keinginan manusiawi yang sering kali mempersulit perintah tersebut. Ketaatan seorang hamba yang menghasilkan mujizat memiliki tiga karakter:
1. Ketaatan Tanpa Ragu
Ketika Yesus memerintahkan para pelayan untuk mencedok air dan membawanya kepada pemimpin pesta, Alkitab mencatat bahwa mereka langsung membawanya tanpa keraguan sedikit pun. Mereka tidak mencicipi atau memeriksa terlebih dahulu apakah air tersebut sudah berubah menjadi anggur.
Di sini mujizat terjadi, yaitu saat seseorang melangkah dengan iman tanpa kebimbangan. Sering kali, apa yang menghalangi mujizat dalam hidup kita adalah karena kita membatasi kuasa Tuhan dengan logika manusia yang terbatas.
Manusia sering ragu karena kurang mengenal pribadi Tuhan, membaca firman hanya sebagai rutinitas tanpa mempercayai, atau karena terlalu fokus pada fakta situasi yang buruk di depan mata. Ketaatan yang sejati mengajar kita untuk tetap melangkah meski di tengah ketidakpastian, bukan karena kita paham semua rencana-Nya, tetapi karena kita mempercayai karakter serta kesetiaan Allah.
2. Ketaatan Tanpa Mengurangi
Yesus memerintahkan pelayan untuk mengisi tempayan-tempayan tersebut hingga penuh, dan mereka pun mengisinya sampai ke bibir tempayan, tanpa menguranginya sedikit pun.
Mereka mengerjakan tugas tersebut dengan totalitas, tanpa tawar-menawar, tanpa modifikasi, tanpa bersungut-sungut. Ketaatan yang ditunda atau setengah-setengah pada hakikatnya adalah ketidaktaatan.
Kita juga perlu menyadari kapasitas pemikiran kita ini terlampau kecil untuk menyelami rancangan Allah yang besar, sehingga respons terbaik yang bisa kita berikan dalam iman ialah taat sepenuhnya, dan mengerjakannya dengan penuh ucapan syukur.
3. Ketaatan Tanpa Kesombongan
Setelah pemimpin pesta mencicipi air yang telah berubah menjadi anggur berkualitas tinggi, ia tidak mengetahui dari mana asal anggur itu. Ia lalu memanggil mempelai laki-laki dan memujinya karena telah menyimpan anggur terbaik hingga akhir acara. Dalam peristiwa ini, para pelayan adalah pihak yang telah mencurahkan seluruh tenaga dan ketaatan mereka, namun mempelai laki-lakilah yang mendapatkan pujian serta apresiasi.
Ingat, ketaatan kita kepada Tuhan tidak boleh digerakkan oleh motivasi untuk mengejar pujian manusia, tepuk tangan, kehormatan, ataupun pengakuan ego. Seorang hamba mesti memiliki hati yang siap untuk menyangkal diri. Sekalipun kita telah berkorban habis-habisan namun orang lain yang naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan, kita harus tetap menjaga hati agar tidak kecewa ataupun menjadi sombong.
Kita tidak boleh merasa diri lebih benar atau lebih suci dibanding orang lain hanya karena kita merasa telah hidup taat. Tujuan utama pelayanan adalah nama Tuhan Yesus Kristus saja yang ditinggikan.
Di dalam Kerajaan Allah, menjadi pelayan tidak pernah menurunkan martabat seseorang. Sebaliknya, di situlah letak kehormatan sejati yang sesungguhnya. Ketika kita taat, kita sedang memposisikan diri sebagai mitra kerja Allah, dan menyediakan ruang bagi kuasa-Nya untuk menyatakan mujizat maupun membawa pemulihan.
Juga, landasan utama dari ketaatan kita adalah kasih, bukan ketakutan akan hukuman.
1 Yohanes 5:3
Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat.
Bukti nyata kita mengasihi Allah adalah menuruti segala perintah-Nya. Jika kita taat atas dasar kasih, maka ketaatan itu akan mengalirkan damai sejahtera, ketenangan, dan sukacita yang menyegarkan sesegar air sejuk.
Sebaliknya, jika kita taat hanya karena rasa takut dihukum atau sekadar mengharapkan imbalan, maka ketaatan tersebut akan terasa sangat berat, memicu rasa stres, ketegangan, serta menjadi beban yang membuat rasa syak di dalam hati serta hidup kita.
Berhentilah menyalahkan Tuhan, gereja, orang lain ataupun situasi di sekitar kita ketika hidup sepertinya mulai mengalami keretakan. Melainkan, evaluasilah diri secara jujur, apakah kita sudah hidup seturut instruksi firman-Nya atau justru kerap menolaknya.
Roma 8:28
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang menunjukkan kasihnya melalui ketaatan.
Ketaatan memang tidak menghapuskan badai dalam hidup kita, tetapi ketaatan yang menentukan apakah kita akan tetap berdiri teguh atau hancur saat badai hidup menerjang.
Mari berkomitmen untuk terus belajar taat, langkah demi langkah, sebagai hamba yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan.
Tuhan Yesus Memberkati
Kolekte
BCA Cab. Menara Ancol
ac 635.100.0101
an. GBI PRJ
Perpuluhan
BCA Cab. Menara Ancol
ac. 635.100.0101
an. GBI PRJ
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.371.7878
an. GBI PRJ
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.327.7878
an. GBI PRJ
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.316.7878
an. GBI PRJ
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.2999.111
an. GBI PRJ Pluit
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.9777.133
an. GBI PRJ Pluit
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.8777.122
an. GBI PRJ Pluit
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.322.2020
an. GBI PRJ Mandarin Service
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.522.3030
an. GBI PRJ Mandarin Service
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.777.7171
an. GBI House Of Christ Revival
Pembangunan
BCA Cab Thamrin
ac. 206.977.7575
an. GBI House Of Christ Revival
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.577.7272
an. GBI House Of Christ Revival
Kolekte
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.331.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Perpuluhan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.331.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Buah Sulung
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.378.7779
an. GBI Alam Sutera Mall
Pembangunan
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.353.0077
an. GBI Alam Sutera Mall
Diakonia
BCA Cab. Thamrin
ac. 206.356.7779
an. GBI Alam Sutera Mall
Kolekte
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.384.8484
an. GBI Intercon
Perpuluhan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.384.8484
an. GBI Intercon
Buah Sulung
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.3800
an. GBI Intercon
Pembangunan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.5900
an. GBI Intercon
Diakonia
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.011.4300
an. GBI Intercon
Kolekte
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.377.7111
an. GBI St Moritz
Perpuluhan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.377.7111
an. GBI St Moritz
Buah Sulung
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.030.7001
an. GBI St Moritz
Pembangunan
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.030.7001
an. GBI St Moritz
Diakonia
BCA Cab.Thamrin
ac. 206.013.9400
an. GBI St Moritz



