Orang percaya seharusnya tidak pernah lepas dari kebutuhan akan tuntunan Tuhan. Apalagi, di tengah ketidakpastian dunia saat-saat ini, tangan Tuhan yang menuntun adalah jaminan yang pasti.
Amsal 3:5-6
Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.
Apa yang harus kita lakukan sebagai orang percaya agar mendapat tuntunan Tuhan:
• Percaya kepada Tuhan dengan Segenap Hati
Kata "Percaya" yang dipakai pada ayat di atas dalam bahasa aslinya memakai kata "batah", yang memiliki arti percaya, mempercayai, serta merasa aman dan yakin. Percaya dengan segenap hati berarti menyerahkan seluruh rasa aman kita hanya kepada Tuhan, bukan kepada situasi atau kekuatan diri sendiri.
Tantangannya muncul ketika logika manusia diperhadapkan pada keterbatasan materi atau krisis yang nyata. Contoh dari sikap percaya digambarkan melalui kisah janda di Sarfat yang berada dalam kondisi sangat kritis (1 Raja-raja 17:11-12).
Ketika nabi Elia meminta sepotong roti, perempuan itu menjawab dengan jujur mengenai keterbatasannya. Secara manusiawi, janda ini sudah menyerah dan bersiap menghadapi kematian setelah menghabiskan sisa bahan makanan yang ia miliki bersama anaknya. Namun, ujian iman yang sesungguhnya terjadi ketika firman Tuhan datang melalui Elia.
Janda Sarfat merespons dengan iman terhadap perintah Tuhan (1 Raja-raja 17:13-14), sehingga mengalami tuntunan dan mujizat penyediaan dari Tuhan. Ketika kita memilih percaya penuh dan yakin kepada Tuhan, tangan-Nya akan menuntun kita melewati masa-masa sulit.
• Jangan Bersandar pada Pengertian Sendiri
Kata "Pengertian" pada ayat di atas dalam bahasa aslinya adalah "bin", yang artinya pandangan, pemahaman, pertimbangan, maupun kebijaksanaan manusia.
Tidak salah menggunakan akal budi, namun Tuhan melarang kita bersandar atau menjadikan pemahaman kita sebagai fondasi utama. Mengapa? Karena pengertian manusia sering kali menjadi penghalang terjadinya mujizat maupun hikmat, karena keterbatasan sudut pandang kita.
Contoh kegagalan bersandar pada pengertian sendiri ditunjukkan oleh Naaman, seorang panglima raja Aram yang menderita penyakit kusta (2 Raja-raja 5:11-12). Ketika diminta oleh nabi Elisa untuk mandi di sungai Yordan sebanyak tujuh kali, Naaman menjadi gusar dan marah.
Naaman memiliki pandangan sendiri tentang bagaimana seharusnya proses kesembuhan terjadi. Ketika manusia memaksakan pertimbangannya sendiri, ia rentan kehilangan tuntunan dan berkat yang sudah Tuhan sediakan. Kesembuhan baru terjadi ketika Naaman menurunkan egonya serta tunduk pada instruksi, tuntunan Tuhan.
• Mengakui Tuhan dalam Setiap Jalan Kita
Kata "Mengakui" pada ayat di atas menggunakan akar kata "yadah", yang memiliki arti mengetahui dan mengenal.
Mengakui Tuhan dalam segala laku bukan sekadar ucapan di bibir atau formalitas, tetapi sebuah kesadaran penuh yang lahir dari hubungan karib dengan-Nya.
Kita mengenal karakter-Nya, mengetahui kehendak-Nya, dan melibatkan-Nya secara aktif dalam setiap pengambilan keputusan, baik dalam perkara kecil maupun besar. Ketika kita melibatkan Tuhan dalam setiap aspek hidup—seperti pekerjaan, keluarga, masa depan, dan pelayanan—maka di situlah Tuhan mengambil alih kemudi hidup kita untuk meluruskan setiap jalan yang berliku.
Mengalami tuntunan tangan Tuhan bukanlah sesuatu yang terjadi secara otomatis, melainkan sebuah kebiasaan rohani yang dilatih terus-menerus, sehingga menjadi respons maupun sikap hati yang selaras dengan firman-Nya.
Take Home Messages:
1. Percaya kepada Tuhan dengan segenap hati (Batah): Membangun rasa aman yang utuh, percaya, dan yakin sepenuhnya kepada Tuhan, melampaui segala keterbatasan fisik ataupun materi yang sedang dihadapi (ingat tentang janda di Sarfat).
2. Jangan bersandar pada pengertian sendiri (Bin): Menundukkan pandangan, pemahaman, pertimbangan, serta kebijaksanaan pribadi di bawah otoritas firman Tuhan, dan tidak membatasi kuasa Tuhan dengan logika kita sendiri (ingat tentang pengalaman Naaman).
3. Mengakui Tuhan dalam setiap jalan kita (Yadah): Berjalan dalam pengenalan yang intim dengan Tuhan, serta melibatkan Dia secara sadar dalam langkah dan keputusan hidup kita setiap hari.
Tangan Tuhan yang menuntun selalu cukup untuk membawa kita sampai pada tujuan mulia yang telah Dia tetapkan.
Tuhan Yesus Memberkati